Kamis, 08 November 2012

SEPOTONG KISAH KU

Melangkah menggapai mimpi Ini adalah kisah ku sebelum masuk kuliah berikut kisah ku Aku adalah siswa XII IPA disalah satu SMA di kabupaten di Sumatra barat, boleh dikatakan SMA ku termasuk SMA terbaik di kabupaten tersebut. seperti kebanyakan siswa XII biasa nya pertengahan semester adalah saat tergalaw nya. Pada pertengahan semerter kami masuk pagi yg biasa nya jam 07:30 sekrang jam 06:30. Tpi bagi ku sekolah pagi tersebut tak obahnya cuman pergi main saja waktu trus berlau tiba lah saat yg paling menggalau kan ketika UN hanya menghitung hari saja, siap UN juga harus mempersiap kan diri buat SNMPTN, terkadang saya iri melihat teman-teman pada dapt undangan. Seringnya waktu UN pun di mulai, waktu itu tanggal 16 april 2012 ujian pertama b.indonesia, hari kedua 17 april 2012 ujian b. inggris sama fisika, 18 april 2012 ujian matematika, dan tagal 19 april ujian kimia sam biologi, dari keseluruhan ujian saya sangat takut ujian b. Indonesia sama b.inggris, karna siap ujian saya Tanya pada teman isinya peda-beda semua. Saya hanya parsah menunggu hasil nya. Skrang mulailah kesibukan mempersiapkan diri buat tes SNMPTN di provinsi ( kota padang). Kebetulan saya dan teman buat SNMPTN kami bimbel di kota pandang yg jarak nya 4 jam dari kampong saya, bimbel di mulai pada tanggal 28 april 2012 kira-kira 9 hari siap UN. Sebelum nya ayah saya telah mencarikan tempat kos di dekat tempat bimbel tersebut. Tpi tempat kos ato kamar tersebut telah ada 2 org yg nempatin tpi kata ibu kos nya muat kok 4 org. Tanggal 28 april 2012 kami brangkat dari kampong saya bersama ayah saya, teman, dan ayah teman jam 10:00wib, dan sampai di kota padang jam 14:00 wib, tpi kami juga masih harus meneruskan perjalanan ke tempat bimbel kira-kira 1 jam lagi ( 2x naik mobil lagi), dan akhirnya sampai kira-kira dah jam 15:00. Sampainya disana kmi lalu menuju tempat kos yg telah di banjar ayah saya. Sampai di tempat kos itu kami terkejut ketika ibu kos nya bilang org yg telah menempatin kamar tersebut tidak mau ber 4, ya gimana lagi kami terpaksa menerima karna kmi yg terlambat kan.. tpi untungnya kamar depan ibu kos itu masih kosong sehingga kami disuruh kos di kamar itu saja. Lau kami bersihkan kamar itu dan mengeluarkan peralatan yg telah kami bawa dari kampong, jujur saja itu adalah kos pertama saya. Siap menyiap kan alat2 saya, ayah saya, teman dan ayah nya kami pergi jalan-jalan ke luar yaitu ke pantai siap ke pantai kamu ke plaza andalas, di sana ayah teman saya beli kipas angin dan ayah saya beli setrika. Siap tu kami pulang ke kos. Kami sampai di kos jam 19:30 wib, di kos kami lau istirahat sebentar trus sholat. Siap istirahat ayah saya pengen makan trus saya dan ayah keluar buat beli nasi. Sampai nya di luar ibu kos nya bilang klw anak nya gak mau kamar nya di jadikan tempat kos, dan dia blang harus keluar juga malam ini. Itu sungguh membuat saya terkejut. Di dalam hati saya berkata “mau kemana ne malam-malam gini’. Dan akhirnya dengan terpaksa dan kecewa kami ber 4 keluar dari kamar tersebut setelah mengemasi barang2 kami yg tadi telah di keluarkan. Kami ber 4 hilir mudik mencari tempat kos, tpi tak menemukan nya. Mungkin kami dah berjalan 2.5 jam tpi blom ada tanda-tanda tempat kos yg cocok. Dan akhir nya jam 11 malam ada tante- tante yg mau meminjam kan kamar nya ke kami. Tpi kamar nya di belakang, kami harus melewati ruang tamu untuk keluar masuk, tpi tak apalah dari pada tidak ada tempat. Disana kami mulai mengeluar kan alat2 dan barang2 kami. Ayah saya mengajarkan kami memasak nasi, siap tu aku di dan teman di nasehati ayah supaya rajin blajar dan sholat. Pagi nya ayah saya dan ayah teman pergi pulang kampong. Jujur saya agak haru ketika ayah saya pergi pulang kampong. Tpi saya harus bisa mandiri. Dan di kamar merah jambu itulah kami menghabis kan waktu buat belajar bersama kurang lebih 45 hari. Saya dan teman mengambil IPC buat SNMPTN, teman saya pengen ambil manajemen UNAND saya pengen ambil Teknik Mesin UNP. Waktu trus berlalu, pada tanggal 26 mei 2012 pengumuman kelulusan SMA, kami pun pulang kampong 3 hari. Alhamdulillah saya dan teman lulus. Setelah liburan 3 hari saya kembali ke pandang buat bimbel lagi. Setelah melewati 45 hari yg penuh suka duka dengan teman karip saya tak disangka SNMPTN hanya menghitung hari saja ( 3 hari lagi) kami pun memutus kan pindah kos karna 3 hari jelang SNMPTN bimbel telah usai. Kami pindah ke labor ( blakang UNP) karna saya dapat tempat ujian di tabing dan teman saya di UNP ( FE) Tempat kos yg baru itu di carikan oleh kakak saya yg dekat dengan tempat kos nya. Kebetulan kakak saya kuliah di UNP. Kami kos selalama 3 hari disana. SNMPTN pun dimulai yaitu pada tanggal 12-13 juni 2012. Hari pertam tes potensi akademik, Alhamdulillah melebihi target. Hari kedua ujian kemampuan ipa da ips. Siap ujian kami langsung pilang kampong buat istirahat. Sambil menunggu pengumuman hasil SNMPTN saya dan teman akrap saya ikut ujian poltekes dan hasil nya kami lulus tpi saya galaw apakah mau saya ambil ato tidak, takut nya SNMPTN gak lulus tapi akhirnya saya putus kan untuk tidak mengambil nya. Pengumuman SNMPTN pun telah di online kan, waktu itu saya sedang nonton TV trus teman saya SMS klaw dia lulus manajemen UNAND, langsung saja saya idupin computer trus masukan nomor ujian dan Alhamdulillah saya lulus pilihan pertama ( teknik mesin UNP) seingat saya itu tanggal 7 juli 2012 jam 7 malam. Alhamdulillah banget. Saat itulah untuk pertama kalinya saya dapat membanggakan orang tua saya serta keluarga, adan saya akan trus berusaha untuk tetap menjadi kebanggan. Begitulah kisah kecil saya semoga dapat di ambil hikmahnya. “hidup untuk berusaha, brusaha untuk tetap hidup” Trimakasih ya allah Trimakasih ayah, ibu Trimakasih kakak Trimakasih teman ( yogi irvada)

Rabu, 29 Februari 2012

PERKAWINAN DI MINANGKABAU

makalah

Untuk Melengkapi Tugas Mata Pelajaran Budaya Alam
Minangkabau


Disusun
Oleh:
Kelompok I:
 Ulfa Anggia Pratami
 Fatihah Muharani
 Yogi Irvanda
 Menisa Fitri
 Anton Stobery
 Mutia Azzahra
 Imron Imam Wahyudi Gunawan

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1
KECAMATAN GUGUAK
TAHUN PELAJARAN 2011/2012






KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah memberi nikmat kesehatan dan kesempatan, sehingga penulis telah berhasil merampungkan makalah sederhana ini.Dalam hal ini penulis sengaja mengambil judul “Adat Istiadat Perkawinan” dengan maksud agar masyarakat mengetahui adat istiadat perkawinan di minangkabau secara benar dan jelas. Di samping itu, penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau.
Penulis banyak mendapat bimbingan, saran dan bantuan dari berbagai pihak, sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Oleh sebab itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Meidiani, S.Pd selaku guru mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau yang telah memberikan bimbingan kepada penulis.
2. Orang tua tercinta, yang selalu memberikan cinta dan motivasi kepada penulis. Doa dan harapan keduanya menjadi penambah semangat bagi penulis untuk berbuat yang terbaik.
3. Teman-teman seangkatan yang senantiasa selalu bersama di saat-saat senang, sulit dan penuh perjuangan ini.
4. Serta semua pihak yang tidak dapat dituliskan satu persatu yang telah memberikan bantuan kepada penulis baik berupa moril maupun materil.

Demikianlah penyusunan makalah sederhana ini. Penulis mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah Yang Maha Kuasa selalu memberkahi kita semua dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan.



Dangung-Dangung, Februari 2012
Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
Masyarakat minangkabau terkenal dengan sistim kekerabatannya yang disebut dengan “MATRILINEAL” dengan segala keunikan adat istiadatnya. Dalam sistim kekerabatan ini,harta pusaka, gelar dan nama kesukuan turun temurun menurut silsilah garis ibu. Saudara laki-laki dari ibu disebut Niniak Mamak,yang dituakan diantara Niniak Mamak disebut Tungganai,yaitu yang memegang pimpinan dalam keluarga. Sedangkan yang memegang pimpinan dalam kaum adalah Penghulu yang diangkat secara resmi.
Niniak Mamak bertanggung jawab atas kerukunan dan kesejahteraan para saudara dan kemenakannya serta keselamatan harta pusaka. Dalam adat perkawinan Niniak Mamak bertugas mencari rang sumando serta memimpin adat menaikkan sirih hingga seseorang itu berumah tangga. Dalam hal ini bukan berarti seorang pria lepas tanggung jawabnya atas keluarga, tapi justru disinilah ditentukan kewibawaan dan kebijaksanaan seorang pria dalam membimbing anak kemenakannya. Seperti kata pepatah “Anak dipangku kamanakan dibimbiang”.
Masyarakat minangkabau adalah pemeluk agama Islam yang taat dan pemegang adat yang kuat. Kaidah-kaidah adat dan agama terpadu secara harmonis dalam tata kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam suatu ungkapan “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”. Maksudnya bahwa adat bersendikan agama dan agama bersendikan Kitab Allah yaitu Al-Qur’an. Oleh karena itu,kaidah-kaidah adat dan agama sangat dihormati oleh masyarakat lebih dari segala-galanya. Dalam adat minangkabau tidak boleh kawin dalam satu suku atau sekampung, kalau seandainya terjadi maka akan dibuang sepanjang adat, atau menyembelih seekor kerbau putih sebagai denda bagi yang melanggar tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
PERKAWINAN
Perkawinan di Minangkabau mengandung makna yang komplek sebab terkandung pengertian perkawinan menurut adat dan syarak. Sehingga pembentukan rumah tangga dari perkawinan merupakan sesuatu yang sakral dan bermakna bagi orang Minangkabau. Sakral juga diartikan suci dan sakti, dimana tak seorangpun dapat menentukan dan menjamin siapa yang akan menjadi pasangannya kelak sebagai seorang suami dan isteri setelah menikah, dan hidup sebagai suatu keluarga.
Ditinjau dari syarak atau ajaran agama Islam Perkawinan adalah Aqad nikah, yaitu Ijab Kabul antara wali nikah seorang perempuan dengan seorang laki-laki calon suami dari seorang perempuan, yang menghalalkan hubungan seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang keduanya bukan muhrim. Dengan demikian perkawinan merupakan ikatan lahir dan bathin seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
Ditinjau dari adat yang dilakukan dinagari-nagari di Minangkabau, maka perkawinan adalah ikatan/jalinan silaturahim antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, antara suatu keluarga dengan keluarga lain, antara suatu suku dengan suku lain, sehingga terbentuklah suatu keluarga baru yang akan menjadi generasi penerus untuk melanjutkan suatu keturunan, oleh karena itu dalam melaksanakan perkawinan tidak dapat hanya dilakukan oleh seorang laki-laki dengan seorang perempuan, wali dan saksi saja melainkan harus diketahui minimal oleh mamaknya dan para pemimpin pemangku adat antara kedua keluarga.
Kemudian ada pernyataan bahwa perkawinan mengandung makna yang luas dan dalam. Makna yang luas artinya perkawinan melahirkan suatu hubungan kekerabatan yang sangat banyak, ada suami,isteri, mertua, menanatu, ipa, bisan, sumando,sumandan, bako dan anak pisang. Hal itu berarti adanya pembentukan kelarga baru dan terciptanya hubungan antara dua keluarga. Makna yang dalam terlihat pada penerapan suruhan/ perintah baik dalam ajaran adat maupun agama Islam, sekaligus menimbulkan hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak. Jadi perkawinan bukan hanya sekedar pertemuan dua insan yang berlainan jenis dalam suatu rumah tangga, tetapi lebih dalam dan lebih luas dari itu, yaitu membentuk hubungan antara dua keluarga. Perkawinan juga menuntut suatu tanggungjawab, antaranya menyangkut nafkah lahir dan batin, jaminan hidup dan tanggungjawab pendidikan anak-anak yang akan dilahirkan. Untuk dapat terlaksana perkawinan dengan lancar di Minangkabau para pemuda dan pemudi harus memperhatikan aturan aturan yang berlaku dalam nagarinya, ada yang berupa anjuran dan ada larangan.
• Perkawinan yang dilarang adalah:
1. Perkawinan Nan Sapayuang Sapatogak. (Satu Keturunan)
2. Perkawinan Sapayuang Sapasukuan ( Satu Suku)

• Perkawinan yang dianjurkan;
1. Perkawinan antar/luar suku.
Dilarangnya perkawinan Sapayuang Sapasukuan oleh adat di Minangkabau karena mereka adalah orang yang satu keturunan, oleh karena itu ada larangan kawin dalam ruang lingkup sapasukuan, dan ada anjuran untuk kawin antar suku, sebab kalau kawin dalam satu suku yang sama akan menimbulkan rusaknya tatanan nilai adat yang mengandung sistem kekerabatan Matrilinial. Bila kawin dalam suku yang sama maka jelas suku anak sama dengan suku Bapak sehingga akan rusak sistem matrilinial di Minangkabau. Orang yang satu suku meskipun telah berlainan rumah gadang dan panghulu, pada mulanya adalah satu keturunan, satu nenek, satu rumah gadang oleh sebab itu mereka tidak boleh melakukan suatu perkawinan. Perkawinan dua orang yang berlainan suku itulah yang disebut dengan perkawinan antar rumah gadang, sehingga akan terjadi relasi hubungan baru antara dua rumah gadang, antar suku dan antar dua keluarga.
2. Perkawinan dalam Nagari.
Larangan kawin sapasukuan sangat kental di Minangkabau sehingga para pemuda pemudi diharuskan kawin antar/luar suku namun ada anjuran untuk melaksanakan perkawinan dalam nagari disebabkan:
a. Fungsinya ditengah keluarga
b. Fungsinya didalam sukunya.
c. Fungsinya ditengah korong kampuang
d. Fungsinya ditengah koto dan nagari.
• Pelaksanaan dan tahap perkawinan.
Palaksanaan perkawinan memiliki tahapan-tahapan yang harus ditempuh dengan aturan sikap dan tingkah laku yang telah diatur sepanjang adat yang berlaku dalam salinka nagari, namun pada dasarnya tahapan perkawinan itu adalah:
2.1 MENAIKKAN SIRIH
Dari pihak laki-laki atau ibu mendatangi rumah wanita yang sebaya dengan pria yang hendak berumah tangga. Pihak pria ini akan membicarakan suatu maksud yang dinamakan “menaikkan sirih”. Isi dari kedatangan ini adalah menanyakan kepada bapak atau ibu si wanita:Apakah sudah ada niat untuk bermenantu dan adakah minat dari si wanita untuk berumah tangga? Andai kata pihak wanita sudah berminat,maka pihak wanita akan mengatakan setuju. Jawaban ini menunjukkan bahwa menaikkan sirih dari pihak laki-laki telah disetujui. Hasil pembicaraan ini bersifat rahasia. Setelah disetujui hari dan waktunya, barulah pihak si pria yang menaikkan sirih tersebut minta izin untuk turun tangga.
2.2 MEMINANG
Meminang adalah tahap kedua yang harus dilakukan oleh pihak laki-laki. Tujuan dari meminang adalah untuk mencari kesepakatan kedua belah pihak guna untuk menetapkan pemberian dari pihak laki-laki. Dalam hal ini berlaku pepatah “Sia manjalo itu tojun,sia datang itu konai”. Begitupun sebaliknya,kalau yang datang pihak wanita maka dia yang memberi kepada pihak laki-laki. Sebelum pihak laki-laki datang meminang ke rumah si wanita,maka ibu dari kedua belah pihak membicarakan lebih dahulu dengan seluruh famili dan Niniak mamaknya untuk dimusyawarahkan hal ini dikenal dengan istilah “ Marisiak”. Setelah masing-masing pihak bermusyawarah barulah pada hari yang telah ditentukan pihak laki-laki datang kerumah wanita untuk meminang. Yang datang sebanyak lima atau tujuh orang laki-laki dan wanita beserta penghulu yang membawa bungkusan nasi beserta sambal daging, gulai daging juga panganan yang dibuat sendiri berupa kue bolu, wajit, pisang manis dan silomak bungkus.
Batuka tando secara harfiah artinya adalah bertukar tanda. Kedua belah pihak keluarga yang telah bersepakat untuk saling menjodohkan anak kemenakannya itu, saling memberikan benda sebagai tanda ikatan sesuai dengan hukum perjanjian pertunangan menurut adat Minangkabau yang berbunyi :“Batampuak lah buliah dijinjiang,Batali lah buliah diirik” Artinya kalau tanda telah dipertukarkan dalam satu acara resmi oleh keluarga kedua belah pihak, maka bukan saja antar kedua anak muda tersebut telah ada keterikatan dan pengesahan masyarakat sebagai dua orang yang telah bertunangan, tetapi juga antar kedua belah keluarga pun telah terikat untuk saling mengisi adat dan terikat untuk tidak dapat memutuskan secara sepihak perjanjian yang telah disepakati itu. Yang dijadikan sebagai tanda untuk dipertukarkan lazimnya adalah benda-benda pusaka, seperti keris, atau kain adat yang mengandung nilai sejarah bagi keluarga. Jadi bukan dinilai dari kebaruan dan kemahalan harganya, tetapi justru karena sejarahnya itu yang sangat berarti dan tidak dapat dinilai dengan uang. Setelah nanti akad nikah dilangsungkan, masing-masing tanda ini harus dikembalikan lagi dalam suatu acara resmi oleh kedua belah pihak.
Barang-barang yang dibawa waktu maminang, yang utama adalah sirih pinang lengkap. Apakah disusun dalam carano atau dibawa dengan kampia, tidak menjadi soal. Yang penting sirih lengkap harus. Namun menurut yang lazim dikampung, jika acara maminang itu bukan sesuatu yang sudah direkayasa oleh kedua keluarga sebelumnya, maka acara ini akan berlangsung berkali-kali sebelum urutan ketentuan diatas dapat dilaksanakan. Karena pihak keluarga wanita pasti tidak dapat memberikan jawaban langsung pada pertemuan pertama itu. Orang tuanya atau ninik mamaknya akan meminta waktu terlebih dahulu untuk memperembukkan lamaran itu dengan keluarga-keluarganya yang patut-patut lainnya. Paling-paling pada pertemuan tersebut, pihak keluarga wanita menentukan waktu kapan mereka memberikan jawaban atas lamaran itu. Musyawarah yang dilakukan untuk menerima atau menolak peminangan seseorang itu disuatu nagari disebut dengan “ Maulang Kato”.

2.3 PERTUNANGAN
Dengan diterimanya pinangan yang dilakukan oleh keluarga yang dipinang, maka dilakukan tahap berikutnya pertunangan, atau dikenal keseharian dengan istilah “Makan Lomang, Batimbang Tando, Jo Basau Tando”. Disebut dengan istilah makan lomang karena untuk membicarakan segala sesuatu tentang pernikahan sebelumnya kedua keluarga Makan Lomang, dimana secara adat pada umumnya keluarga laki-laki membawa lomang dan kelengkapannya pada keluarga perempuan. Disebut pula dengan istilah Batimbang jo Basau Tando karena setelah adanya kesepakatan dilakukan Batimbang, Basau Tando.Jadi Pertunangan (Makan Lomang, Batimbang Basau Tando) itu adalah merupakan suatu cara yang menyatakan secara resmi menurut adat bahwa telah adanya ikatan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk menikah yang disepakati oleh kedua anggota keluarga bersama niniak mamak pemangku adat.
Pertunangan itu biasanya dilakukan dirumah pihak keluarga yang wanita, dengan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak, dimana menurut adat disebut dengan; “ salah batando satu, basalahan batando duo, barsamaan batimbang jo basauo tando”. Jadi dengan telah terjadinya kesepakatan antara kedua keluarga maka dilakukan; Batimbang Tando dan Basaua Tando. Batimbang tando biasanya yang digunakan adalah emas sebentuk cincin dan kain dan Basaua tando biasa diganakan Keris dan Gelang Emas.
Setelah terjadinya pertukaran tando,maka salah satu pihak memberikan adat kobek tando untuk niniak mamak dan juga adat untuk dubalang pegawai adat, dimana disuatu nagari disebut dengan istilah “sisiah ambun” dan lainnya sesuai dengan nama aturan adat salingka nagari. Pada waktu pertunangan (makan lomang) tersebut dibicarakan berbagai hal diantaranya:
1. Menentukan hari Pernikahan.
2. Kelengkapan Pernikahan
3. Menentukan acara adat jeput antar.
4. Kelengkapan Pesta pernikahan
5. Mahar pernikahan, dan sebagainya.

BAB III
PERSIAPAN MENJELANG KAWIN

Untuk selanjutnya yang harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak adalah menyiapkan
segala surat menyurat dan foto kedua mempelai yang dipergunakan unttuk nikah.
Kawin atau nikah adalah suatu akad (perjanjian antar pria dan wanita).
Hal-hal yang harus disiapkan dan diperhatikan menjelang nikah :
a. Surat keterangan dari pengulu diketahui oleh kepala dusun
b. Surat dari kepala desa
c. Identitas
d. Surat persetujuan kedua belah pihak yang akan nikah dari wali hakim
Syarat-syarat dan rukun nikah ada lima yaitu :
a. Calon suami
b. Calon istri
c. Ijab kabul
d. Wali
e. Saksi-saksi
Yang berhak menikahkan adalah wali dari wanita dan dinikahkan didepan wali hakim. Jika dia tidak sanggup maka diwakilkannya kepada wali hakim. Mengenai mahar wajib diberikan oleh suami berupa benda atau boleh juga berupa uang yang diberikan waktu akad nikah atau diberikan kepada calon istri kemudian, tapi mahar itu wajib dibayar. Mahar adalah suatu pemberian berupa benda berhharga atau sejumlah uang yang diberikan oleh mempelai pria kepada mempelai wanita sebagai suatu penghormatan atas dirinya.
A. Upacara Pernikahan/Perkawinan
Pada umumnya akad nikah dilaksanakan dirumah wanita dan orang-orang yang diperlukan seperti wali hakim harus diundang. Oleh karena itu tentu saja harus menyiapkan makan dan minum untuk menjamunya. Jamuan ini dilaksanakan setelah akad nikah selesai.
B. Menebang Pisang
Menebang pisang dilakukan seminggu menjelang kenduri dilakukan. Sebelum itu kedua belah pihak diharuskan mengantarkan nasi yang dicampur dengan kelapa yang telah dipotong-potong sebegitu rupa. Mengantarkannya ada yang dijujung dengan kain panjang dan adapula dengan rantangkalua. Nasi itu diberikan kepada famili laki-laki yang bertalian darah dan korong kampung menurut adat. Mangkuk nasi itu harus diisi dengan beras oleh yang diberi nasi. Waktu untuk mengantarkan nasi ini ada yang dilakukan jauh sebelum kenduri dan ada pula yang bersamaan dengan kenduri.
Diwaktu menebang pisang, famili-famili terdekat mengantarkan pisang, gunanya untuk dihidangkan dihadapan tamu dan juga untuk mengisi bungkusan orang yang dipanggil dan tamu-tamu yang diberi surat undangan.
C. Maimbau /Memanggil/Minta Izin / Mahanta Siriah
Bila seseorang pemuda telah ditentukan jodoh dan hari perkawinannya, maka kewajiban yang pertama menurut adat yang terpikul langsung ke diri orang yang bersangkutan, ialah memberi tahu dan mohon doa restu kepada mamak-mamaknya, kepada saudara-saudara ayahnya; kepada kakak-kakaknya yang telah berkeluarga dan kepada orang-orang tua lainnya yang dihormati dalam keluarganya. Acara ini pada beberapa daerah di Sumatera Barat disebut minta izin. Bagi pihak calon pengantin wanita, kewajiban ini tidaklah terpikul langsung kepada calon anak daro, tetapi dilaksanakan oleh kaum keluarganya yang wanita yang telah berkeluarga. Acaranya bukan disebut minta izin tapi mahanta siriah atau menghantar sirih. Namun maksud dan tujuannya sama. Tugas ini dilaksanakan beberapa hari atau paling lambat dua hari sebelum akad nikah dilangsungkan.
Tata Cara:
Pada hari yang telah ditentukan calon mempelai pria dengan membawa seorang kawan (biasanya teman dekatnya yang telah atau baru berkeluarga) pergi mendatangi langsung rumah isteri dari keluarga-keluarga yang patutu dihormati seperti disebutkan diatas. Setelah menyuguhkan rokok (menurut cara lama menyuguhkan salapah yang berisi daun nipah dan tembakau) sebagai pembuka kata, kemudian secara langsung pula memberitahu kepada keluarga yang didatangi itu bahwa ia kalau diizinkan Allah, akan melaksanakan akad nikah. Kemudian menjelaskan segala rencana perhelatan yang akan diadakan oleh orang tuanya. Lalu minta izin (mohon doa) restu dan kalau perlu minta sifat dan petunjuk yang diperlukan dalam rencana perkawinan itu. Terakhir tentu memohon kehadiran orang bersangkutan serta seluruh keluarganya pada hari-hari perhelatan tersebut.
Biasanya keluarga-keluarga yang didatangi tidaklah melepas pulang begitu saja keluarganya yang datang minta izin secara akrab seperti itu. Dengan dihormati begitu oleh anak kemenakannya, mereka juga merasa terpanggil untuk ikut memikul beban (ringan sama dijinjing, berat sama dipikul) dengan memberikan bingkisan-bingkisan yang berguna bagi orang yang akan pesta. Walaupun misalnya hanya satu kilogram gula pasir saja, sesuai dengan kemampuannya. Bagi keluarga calon pengantin wanita yang bertugas melaksanakan acara ini yang disebut mahanta siriah, peralatan yang dibawa sesuai dengan namanya yaitu seperangkat daun sirih lengkap bersadah pindang yang telah tersusun rapi baik diletakkan diatas carano maupun didalam kampia (tas yang terbuat dari daun pandan). Sebelum maksud kedatangan disampaikan maka sirih ini terlebih dahulu yang disuguhkan kepada orang yang didatangi.
Selain itu ada dengan sepucuk surat undangan untuk teman-teman sebayanya
D. Malam Bainai
Secara harfiah bainai artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut daun inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita. Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan lekat semalam, akan meninggalkan bekas warna merah yang cemerlang pada kuku. Lazimnya dan seharusnya acara ini dilangsungkan malam hari sebelum besok paginya calon anak daro melangsungkan akad nikah. Apa sebab demikian ? Pekerjaan mengawinkan seorang anak gadis untuk pertama kalinya di Minangkabau bukan saja dianggap sebagai suatu yang sangat sakral tetapi juga kesempatan bagi semua keluarga dan tetangga untuk saling menunjukkan partisipasi dan kasih sayangnya kepada keluarga yang akan berhelat. Karena itu jauh-jauh hari dan terutama malam hari sebelum akad nikah dilangsungkan semua keluarga dan tetangga terdekat tentu akan berkumpul di rumah yang punya hajat.
Sesuai dengan keakraban masyarakat agraris mereka akan ikut membantu menyelesaikan berbagai macam pekerjaan, baik dalam persiapan di dapur maupun dalam menghias ruangan-ruangan dalam rumah. Pada kesempatan inilah acara malam bainai itu diselenggarakan, dimana seluruh keluarga dan tetangga terdekat mendapat kesempatan untuk menunjukkan kasih sayang dan memberikan doa restunya melepas dara yang besok pagi akan dinikahkan. Selain dari tujuan, menurut kepercayaan orang-orang tua dulu pekerjaan memerahkan kuku-kuku jari calon pengantin wanita ini juga mengandung arti magis. Menurut mereka ujung-ujung jari yang dimerahkan dengan daun inai dan dibalut daun sirih, mempunyai kekuatan yang bisa melindungi si calon pengantin dari hal-hal buruk yang mungkin didatangkan manusia yang dengki kepadanya. Maka selama kuku-kukunya masih merah yang berarti juga selama ia berada dalam kesibukan menghadapi berbagai macam perhelatan perkawinannya itu ia akan tetap terlindung dari segala mara bahaya. Setelah selesai melakukan pesta-pesta pun warna merah pada kuku-kukunya menjadi tanda kepada orang-orang lain bahwa ia sudah berumah tangga sehingga bebas dari gunjingan kalau ia pergi berdua dengan suaminya kemana saja.
Kepercayaan kuno yang tak sesuai dengan tauhid Islam ini, sekarang cuma merupakan bagian dari perawatan dan usaha untuk meningkatkan kecantikan mempelai perempuan saja. Tidak lebih dari itu. Memerahkan kuku jari tidak punya kekuatan menolak mara bahaya apa pun, karena semua kekuatan adalah milik Allah semata-mata

BAB IV
KENDURI
4.1 Penyambutan Di Rumah Anak Daro
Bila akad nikah dilangsungkan dirumah calon mempelai wanita, bukan di mesjid, maka acara penyambutan kedatangan calon mempelai pria dengan rombongannya di halaman rumah calon pengantin wanita akan menjadi sebuah acara besar. Acara ini sering juga disebut sebagai acara baralek gadang dengan menegakkan marawa-marawa Minang sepanjang jalan sekitar rumah. Menyiapkan pemain-pemain musik tradisional (talempong dan gandang tabuik) untuk memeriahkan suasana. Menyiapkan payung kuning kehormatan serta pemegangnya untuk memayungi calon pengantin pria. Kemudian juga dipersiapkan barisan galombang adat timbal balik yang terdiri dari pemuda-pemuda berpakaian silat untuk membuka jalan, dan dara-dara berpakaian adat yang akan menyuguhkan sirih secara bersilang dari pihak tuan rumah kepada ninik mamak yang ada dalam rombongan yang datang, dan dari fihak tamu yang datang kepada ninik mamak yang ada dalam rombongan yang menanti.
Tata cara::
Secara garis besar ada empat tata cara menurut adat istiadat Minang yang dapat dilakukan oleh pihak keluarga calon mempelai wanita dalam menyambut kedatangan calon mempelai pria yang dilangsungkan pada empat titik tempat yang berbeda pula di halaman rumahnya.
Pertama, memayungi segera calon mempelai pria dengan payung kuning tepat pada waktu kedatangannya pada titik yang telah ditentukan di jalan raya di depan rumah. Atau kalau rombongan datang dengan mobil, pada titik tempat calon mempelai pria ditentukan untuk turun dari mobilnya dan akan melanjutkan perjalanan menuju rumah dalam arak-arakan berjalan kaki.
Kedua, penyambutan dengan tari gelombang Adat timbal balik oleh pemuda-pemuda yang disebut parik paga dalam nagari dengan memberikan penghormatan pertama dan menjaga kiri kanan jalan yang akan dilewati oleh rombongan. Pada satu titik dipertengahan jalan kedua barisan gelombang ini akan bersobok dan pimpinannya masing-masing akan melakukan sedikit persilatan. Ini mengambil contoh pada perkawinan di kampung-kampung dahulu di ranah minang, ketika seorang pemuda harus dikawal oleh kawan-kawannya sepersilatan di dalam perjalanan menuju ke rumah calon isterinya yang berada dikampung lain. Kampung isterinya ini juga dikawal oleh pemuda-pemuda yang selalu siap siaga menjaga keamanan. Sehingga tidak jarang antara kedua kelompok pemuda ini sering terjadi salah paham sehingga mereka saling menunjukkan kelihaian mereka dalam bersilat. Karena itulah dalam pertemuan dua barisan gelombang itu sampai sekarang tetap ada acara persilatan sejenak yang berhenti setelah seorang ninik mamak maju ketengah melerai mereka dengan carano adat.
Kemudian acara selanjutnya dengan barisan dara-dara limpapeh rumah dan gadang yang menyonsong mempersembahkan sirih lengkap dalam carano adat bertutup dalamak secara timbal balik dalam gerakan menyilang antara yang datang dan yang menanti.
Ketiga, sambah-manyambah antar juru bicara pihak tuan rumah dengan juru bicara rombongan calon mempelai pria yang dilangsungkan tepat di depan pintu gerbang sebelum masuk ke pekarangan rumah calon mempelai wanita. Menurut adatnya sambah-manyambah di luar rumah ini diawali oleh juru bicara pihak calon pengantin wanita sebagai sapaan kehormatan atas datangnya tamu-tamu ke rumah mereka. Keempat, penyambutan oleh perempuan-perempuan tua pada titik sebelum calon mempelai pria memasuki pintu utama rumah. Perempuan-perempuan inilah yang menaburi calon pengantin pria dengan beras kuning sambil berpantun dan kemudian setelah mempersiapkan naik manapiak bandua maningkek janjang, mencuci kaki calon menantunya dengan menuangkan sedikit air ke ujung sepatu calon mempelai pria. Di Jakarta sekarang juga lazim dilakukan setelah pencucian kaki secara simbolik ini, maka calon pengantin pria akan menapak masuk ke dalam rumah melewati kain jajakan putih yang terbentang antara pintu sampai ke tempat di mana acara akad nikah akan dilangsungkan.
Pencucian kaki dan berjalan diatas kain putih ini merupakan perlambang dari harapan-harapan tentang kebersihan dan kesucian hari dari calon menantu dalam melaksanakan niatnya untuk mengawini calon isterinya. Sering juga disebut acara ini bermakna, bahwa calon pengantin pria hanya akan membawa segala yang suci dan bersih ke atas rumah, dan meninggalkan segala yang buruk dan kotor di halaman.
Beberapa besar jumlah pemuda-pemuda yang terlibat mendukung penyambutan dengan tari gelombang serta pemudi-pemudi yang mendukung acara persembahan sirih adat, menunjukkan pula besar kecilnya pesta yang diadakan. Namun yang lazim jumlah tidak kurang dari tujuh orang untuk tiap kelompok. Tujuh orang penari gelombang dari pihak yang menanti, yaitu tujuh lagi dari pihak yang datang dan tujuh orang pula dara-dara yang membawa sirih pihak yang menanti dan tujuh orang pula dari pihak yang datang.
Namun untuk penghematan tenaga, adakalanya dan sah juga adanya juka penyambutan hanya dilakukan secara sepihak oleh keluarga yang menanti. Artinya barisan gelombang dan dara-dara limpapeh pembawa sirih hanya disiapkan dipihak keluarga calon pengantin wanita saja

.4.2 Manjapuik Marapulai
Ini adalah acara adat yang paling penting dalam seluruh rangkaian acara perkawinan menurut adat istiadat Minangkabau. Menjemput calon pengantin pria ke rumah orang tuanya untuk dibawa melangsungkan akad nikah di rumah kediaman calon pengantin wanita. Dahulu di kampung-kampung biasanya cukup beberapa orang laki-laki saja dari keluarga calon pengantin wanita yang menjemput calon pengantin pria ini untuk melafaskan ijab kabul di mesjid-mesjid. Setelah selesai akad nikah barulah kemudian keluarga besar kembali menjemput menantunya itu ke rumah orang tuanya untuk dipersandingkan di rumah pengantin wanita.
Tetapi sekarang untuk efisiensi waktu yang lazim berlaku di kota-kota besar, akad nikah diadakan di rumah calon pengantin wanita dan setelah itu langsung kedua pengantin dipersandingkan di pelaminan. Maka untuk acara yang semacam ini, penjemputan calon mempelai pria ke rumah orang tuanya harus dilaksanakan sepanjang adat dengan memenuhi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati sebelumnya.
Sering terjadi sampai sekarang terutama untuk perkawinan-perkawinan yang diatur oleh orang tua-tua sebuah rencana perkawinan batal gara-gara ketidakcocokan dalam soal jemput menjemput calon marapulai atau mempelai ini. Kekisruhan ini bisa terjadi bukan saja karena tidak sesuainya barang-barang yang dibawa pihak keluarga calon pengantin wanita untuk menjemput, tapi bisa juga karena dirasa juga tidak memenuhi ketentuan-ketentuan adat istiadat menurut tata cara kampungnya atau luhak adatnya yang berbeda-beda. Secara umum menurut ketentuan adat yang lazim, dalam menjemput calon pengantin pria keluarga calon pengantin wanita harus membawa tiga bawaan wajib, yaitu
Pertama : Sirih lengkap dalam cerana menandakan datangnya secara beradat
Kedua : Pakaian pengantin lengkap dari tutup kepala sampai ke alas kaki yang akan dipakai oleh calon pengantin pria
Ketiga : Nasi kuning singgang ayam dan lauk pauk yang telah dimasak serta makanan dan kue-kue lainnya sebagai buah tangan.
Hal-hal diluar ini, itu tergantung kepada adat istiadat daerah masing-masing yang berbeda-beda, serta perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Umpamanya untuk daerah pesisir Sumatera Barat seperti Padang dan Pariaman, berlaku ketentuan untuk membawa payung kuning tujuh tungketan, tombak janggo janggi, pedang (kalau si calon pengantin prianya bergelar Marah, Sidi dan Bagindo) dll. Jika ada perjanjian-perjanjian yang dibuat sebelumnya dimana pihak keluarga calon pengantin wanita harus membawa uang jemputan, uang hilang, atau apapun namanya,maka segala yang dijanjikan itu harus dibawa secara resmi waktu melakukan acara menjemput marapulai ini. Semua bawaan ini ditata rapi pada wadahnya masing-masing. Banyak atau sedikitnya bawaan yang dibawa serta banyak atau sedikitnya jumlah keluarga pihak calon pengantin wanita yang datang menjemput, sering menjadi ukuran besar kecilnya pesta yang diadakan itu. Untuk melepas anak kemenakan mereka yang akan melakukan akad nikah ini, pihak keluarga calon pengantin pria biasanya juga mengumpulkan seluruh keluarganya yang patut-patut. Termasuk ninik mamak dan para rang sumandonya. Situasi ini dengan sendirinya membuat acara tersebut menjadi sangat resmi, dimana kedua belah pihak keluarga saling berusaha untuk memperlihatkan adat sopan dan basa-basi yang baik.
Adat sopan dan basa-basi yang baik itu, bukan hanya tercermin dalam sikap dan tindak tanduk saja, tetapi juga harus terungkap didalam tutur kata. Oleh karena itulah maka pada acara manjapuik marapulai ini, kedua belah pihak keluarga harus menyediakan jurubicara yang dianggap mahir untuk bersikap dan bertutur kata yang baik sesuai dengan tata cara adat yang disebut alur pasambahan, atau yang pandai melaksanakan sambah manyambah. Untuk acara sambah-manyambah dalam alek kawin ini menurut adat Minangkabau tidak perlu harus dilakukan oleh seorang ninik mamak atau penghullu, tetapi dipercayakan kepada yang muda-muda terutama para rang sumando baru dalam lingkungan keluarga masing-masing. Sebagai orang yang dihormati dan dituakan maka ninik mamak dan penghulu dalam pesta perkawinan berperan sebagai tumpuan untuk bermufakat atau tempat memulangkan kata, jika ada hal-hal alam pembicaraan yang memerlukan petunjuk dan saran dari yang tua-tua.
Oleh karena kewajiban sambah-manyambah ini merupakan keahlian yang tidak dimiliki oleh setiap orang, maka seringkali dikampung-kampung dulunya acara semacam ini oleh para jurubicara yang ditunjuk, dijadikan ajang untuk saling memamerkan kefasihan mereka masing-masing dalam melafalkan pepatah-petitih dan merentetkan kembali tambo alam Minangkabau, sehingga acara menjadi bertele-tele memakan waktu yang panjang dan membosankan.
Sesuai dengan efisiensi waktu pada zaman sekarang ini, dimana akad nikah juga harus tunduk kepada jadwal yang telah ditentukan, maka dengan tidak mengurangi hakekat acara tersebut sebagai suatu yang harus nampak beradat, maka acara sambah-manyambah ini bisa dipadatkan dengan hanya menyebut bagian-bagian yang memang perlu dan wajib disebut sesuai dengan tujuan kedatangan rombongan itu sendiri. Oleh karena didalam pelajaran sambah-manyambah pun ada tata cara pasambahan yang dikategorikan sebagai pangka batang untuk setiap acara yang dihadapi.
Di dalam acara manjapuik marapulai ini maka yang pokok-pokok harus disebut itu adalah sbb: Pasambahan menghormati yang tua-tua dan yang patut-patut yang ada diatas rumah,
Pasambahan menyuguhkan sirih adat, Menyampaikan maksud kedatangan,
Memohon semua keluarga tuan rumah ikut mengiringkan, Menanyakan gelar calon menantu mereka, Berterima kasih atas sambutan dan hidangan yang disuguhkan.
Tata cara::
Sesuai dengan hari dan jam yang telah disepakati dengan memperhitungkan jarak yang akan ditempuh serta jadwal waktu akad nikah yang telah ditetapkan sesuai dengan undangan, maka rombongan penjemput berangkat menuju rumah calon pengantin pria bersama-sama sambil membawa segala perlengkapan sebagaimana yang telah disebutkan pada bab terdahulu. Pihak keluarga calon pengantin pria menyambut dan menunggu tamunya di pekarangan rumah sambil menyiapkan pula sejumlah orang-orang yang akan menjawat atau menerima barang-barang yang dibawa oleh rombongan yang datang.
Setelah segala bawaan yang dibawa oleh rombongan penjemput ini diterima dihalaman, maka semua rombongan penjemput dipersilakan naik ke atas rumah. Para tamu yang datang menurut adat Minang didudukkan pada bagian yang paling baik di atas rumah. Kalau ada pelaminan; disekitar pelaminan menghadap ke pintu masuk, sedangkan tuan rumah (sipangka) berjejer sekitar pintu atau pada bagian yang dilalui untuk menuju ke dapur atau ke ruang dalam.
Barang-barang bawaan rombongan penjemput termasuk sirih dalam cerana setelah diterima di halaman, biasanya ditata dulu dengan baik dan dijejerkan ditengah-tengah rumah agar dapat disaksikan oleh semua orang. Dalam acara manjapuik marapulai ini yang lazim pembicaraan dimulai oleh pihak yang datang. Jika rombongan yang datang membawa seorang juru bicara yang pandai sambah manyambah, maka sebelum pembicaraan dimulai haruslah terlebih dahulu pihak yang datang sambil berbisik bertanya kepada orang yang menanti kepada siapa sembah ini akan ditujukan.
Pertanyaan berbisik ini merupakan tata tertib yang perlu dilaksanakan, agar sambah yang akan ditujukan itu jatuh kepada orang yang tepat, artinya orang yang memang telah mempunyai keahlian sepadan untuk menjawab kata secara alur persembahan. Sebab kalau tidak, maka sembah yang dituhuakkan kepada seseorang yang ternyata bukan seorang yang menguasai seni ini, maka ini dapat membuat malu dan canggung orang yang dituju dan bahkan juga dapat menimbulkan rasa kurang enak dihati tuan rumah.
Pembicaraan pertama yang dibuka oleh pihak yang datang ini, tidak pulalah sopan jika secara langsung mengungkapkan maksud kedatangan rombongan. Yang lazim adalah juru bicara setelah menyatakan terima kasih atas penyambutan yang ramah dan baik dari tuan rumah dalam menerima kedatangan mereka, maka ia akan bertanya terlebih dahulu, apakah dia sudah dibenarkan untuk menyampaikan maksud dari kedatangan rombongan. Didalam alur persembahan kalimat bertanya tersebut terungkap dalam kata-kata bersayap sbb: Jikok ado nan takana di atiNan tailan-ilan dimatoAlah kok buliah kami katangahkan ?
Lazimnya menurut tata tertib yang betul sebagaimana yang tetap berlaku sampai sekarang di ranah minang, tuan rumah melalui jurubicaranya tidaklah akan menjawab begitu saja secara langsung memberikan izin kepada rombongan yang datang untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Orang bertamu ke rumah orang lain biasanya disuguhi air minum agak seteguk lebih dahulu sebelum berunding, apalagi satu rombongan yang datang secara beradat. Ini sesuai dengan idiom Minang yang mengatakan : Jikok manggolek di nan dataJikok batanyo lapeh arakJikok barundiang sudah makan.
Demikian pembicaraan akan terputus sementara untuk mempersilakan tamu-tamu makan atau setidak-tidaknya minum segelas air dan mencicipi kue-kue yang telah disediakan. Setelah selesai acara santap atau makan kue-kue kecil ini, barulah juru bicara pihak rombongan yang datang kembali mengangkat sembah, mengulangi kembali pertanyaan yang tertunda tadi. Setelah jurubicara tuan rumah menyatakan bahwa runding sudah bisa dilanjutkan, maka barulah jurubicara yang datang secara terperinci mengemukakan maksud kedatangan rombongan dalam alur persembahannya yang pokok-pokok isinya harus memenuhi ketentuan-ketentuan adat menjemput maapulai sbb : Menyatakan bahwa mereka itu merupakan utusan resmi mewakili pihak keluarga calon pengantin wanita. Bahwa mereka datang secara adat. Maningkek janjang manapiak bandua dengan membawa sirih dalam carano. Bahwa tujuan mereka adalah untuk menjemput calon mempelai pria (sebutkan namanya dan nama orang tuanya dengan jelas). Menegaskan bahwa jemput itu jemput terbawa, sekalian dengan keluarga yang akan mengiringkan.
Kalimat-kalimat dalam alur persembahan bisa bervariasi panjang dengan menyebut dan membeberkan kembali sejarah kelahiran seorang anak sampai dewasa dan sampai berumah tangga atau mengulang-ulang tambo sejarah ninik moyang orang Minang mulai dari puncak Gunung Merapi sampai ke laut yang sedidih dsb. Tetapi itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan inti maksud kedatangan rombongan, kecuali hanya untuk memamerkan keahlian si tukang sembah. Sedangkan yang pokok menurut adat untuk disebut adalah yang berhubungan dengan empat ketentuan di atas. Setelah keempat maksud itu disampaikan, dan diterima oleh jurubicara tuan rumah maka barulah seperangkat pakaian yang dibawa oleh rombongan penjemput diserahkan kepada tuan rumah untuk bisa segera dipakaikan kepada calon mempelai pria. Sambil menunggu calon mempelai pria berpakaian, barulah dilanjutkan lagi acara dengan alur persembahan menanyakan gelar calon mempelai pria.
Setelah selesai acara sambah-manyambah ini, dan setelah selesai calon mempelai pria didandani dan dikenakan busana yang dibawa oleh keluarga calon mempelai wanita, maka sebelum rombongan termasuk rombongan keluarga yang laki-laki berangkat bersama-sama menuju rumah kediaman calon mempelai wanita, haruslah calon mempelai pria memohon doa restu terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya dan kepada keluarga-keluarganya yang tua-tua dan yang pantas untuk dihormati dalam kaumnya.
Oleh karena anak laki-laki di dalam kekerabatan Minang kalau sudah beristeri biasanya akan tinggal di rumah isterinya, maka sering juga anak laki-laki yang akan kawin itu disebut akan menjadi "anak orang lain". Sehingga momen permohonan doa restu ketika akan berangkat nikah, seringkali menjadi sangat mengharukan, dimana yang dilepas dan yang melepas saling bertangis-tangisan. Lazimnya dalam acara menjemput calon mempelai pria ini, pihak keluarga calon mempelai wanita juga membawa dua orang wanita muda yang baru berumah tangga untuk dijadikan pasumandan yang mengiringkan dan mengapit calon mempelai pria mulai turun rumahnya sampai disandingkan di pelaminan setelah akad nikah. Pasumandan ini juga didandani dengan baju kurung khusus dan kepalanya dihiasi dengan sunting rendah.
4.3 Manjalang / Mahanta Nasi
Seusai acara akad nikah yang dilanjutkan dengan basandiang di rumah kediaman mempelai wanita, maka sebuah acara lagi yang dikategorikan sebagai perhelatan besar dalam tata cara adat istiadat perkawinan di Minangkabau, ialah acara manjalang. Acara ini mungkin bisa disamakan dengan acara ngunduh mantu yang berlaku menurut adat Jawa. Acara ini yang pelaksanaan dan undangannya dilakukan oleh pihak keluarga mempelai pria, pada beberapa nagari di Sum Bar mendapat penamaan yang berbeda-beda. Ada yang menyebut dengan istilah manjalang mintuo, mahanta nasi, manyaok kandang atau mahanta nasi katunduakan, mahanta bubue dsb.
Namun maksud dan tujuannya sama, yaitu kewajiban untuk mengisi adat setelah akad nikah dari pihak keluarga mempelai wanita kepada keluarga mempelai pria. Mengisi adat ini bermakna bahwa pihak keluarga mempelai wanita pada hari yang ditentukan harus datang secara resmi kerumah ayah ibu mempelai pria saling kenal mengenal dengan seluruh keluarga mertua anaknya. Karena datang ini secara beradat dan kunjungan mereka itu bukan saja akan disaksikan oleh keluarga, tetapi juag oleh tamu-tamu lain yang diundang oleh keluarga pihak mempelai pria, maka tak heran kalau dibeberapa nagari di Sum Bar sampai sekarang acara ini sering dilaksanakan dengan sangat meriah dan penuh semarak.
Sesuai dengan salah satu judulnya mahanta nasi maka rombongan keluarga mempelai wanita yang datang kerumah ayah ibu mempelai pria ini memang diharuskan untuk membawa berbagai macam makanan. Seperti nasi kuning singgang ayam, lauk pauk rendang, sampadeh dll. Serta kue-kue besar macam macam bolu dan kue-kue adat seperti bulek-bulek, pinyaram, kue poci, kue abuak, onde-onde dll.
Semua bawaan ini ditata diatas dulang-dulang tinggi yang bertutup kain dalamak dan dibawa dengan dijunjung diatas kepala dalam barisan oleh wanita-wanita yang berpakaian adat. Proses inilah yang disebut dengan istilah manjujuang jamba. Di daerah dalam lingkung adat kubuang tigo baleh (Solok), bawaan nasi dan lauk pauk dalam acara ini yang disebut mahanta nasi katunduakan, ditata dalam cambuang-cambuang kaca putih yang dijunjung oleh wanita-wanita berpakaian adat setempat dengan barisan berderet satu-satu bagaikan itik pulang petang.
Di daerah pesisir seperti Padang dan Pariaman, maka segala bawaan ini baik yang dijunjung diatas dulang maupun yang dipapah dengan baki, tidak boleh ditutup agar orang-orang kampung lain bisa melihatnya sepanjang jalan yang dilalui. Di daerah ini jumlah makanan yang dibawa berbeda pula untuk orang-orang biasa bila dibandingkan dengan keturunan puti-puti. Untuk orang-orang biasa segala bawaan itu cukup setiap macam sebuah atau serba satu atau paling banyak serba dua, maka bagi keturunan puti-puti harus serba empat. Singgang ayamnya empat, kue bolunya empat dll.
Arak-arakan manjalang atau mahanta nasi dari rumah mempelai wanita ke rumah orang tua mempelai pria ini selain diikuti oleh wanita-wanita yang berpakaian adat atau berbaju kurung, juga diikuti oleh para ninik mamak yang juga mengenakan lengkap busana-busana adat sesuai dengan fungsinya didalam kaum. Barisan ini juga dimeriahkan dengan iringan pemain musik tradisional setempat seperti talempong pacik, gendang, dan puput sarunai yang berbunyi terus menerus sepanjang jalan sampai ke tempat tujuan. Di beberapa kampung sekarang, yang mungkin bertujuan untuk lebih praktis, iringan musik ini ada yang dilakukan dengan mengikutsertakan seorang laki-laki dalam barisan dengan menyandang tape recorder yang agak besar dan sepanjang jalan membunyikan kaset lagu-lagu Minang dengan volume besar.
Dirumah mempelai pria rombongan ini disambut pula secara adat. Selain dengan sirih dalam carano adakalanya juga dinanti dengan tari gelombang dan pasambahan. Pengantin wanita dipersandingkan lagi dengan pengantin pria di pelaminan yang sengaja dipasang oleh keluarga pengantin pria. Adalah kewajiban adat bagi ayah ibu pengantin pria setelah acara selesai, sebelum tamu-tamu pulang, untuk mengisi beberapa wadah bekas pembawaan makanan keluarga pengantin wanita yang telah kosong. Isinya bisa berupa bahan-bahan kain untuk baju, atau seperangkat pakaian, perhiasan emas atau sejumlah uang atau bisa juga hanya diisi dengan gula, mentega dan tepung terigu.
Semua itu tentu sesuai dengan kemampuan dan kerelaan sang mertua. Untuk pesta-pesta perkawinan yang diadakan digedung-gedung, acara manjalang ini juga sering dilaksanakan secara simbolik, dimana barisan pengantin waktu memasuki gedung diawali dengan barisan dara-dara limpapeh rumah dan gadang yang menjunjung jamba. Sedangkan orang tua dan saudara-saudara kandung pengantin pria sebagai orang yang punya hajat tidak ikut dalam barisan, tetapi menunggu iring-iringan pengantin dan orang tua pengantin wanita di depan pelaminan.





BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Perkawinan adalah Aqad nikah, yaitu Ijab Kabul antara wali nikah seorang perempuan dengan seorang laki-laki calon suami dari seorang perempuan, yang menghalalkan hubungan seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang keduanya bukan muhrim. Dengan demikian perkawinan merupakan ikatan lahir dan bathin seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Sebelum kita berumah tangga dan akn berumah tangga hendaklah syarat-syarat yang di makalah ini kita hayati dan laksanakan. Sebab semua syarat-syarat ini merupakan suatu ketentuan adat minangkabau dan sudah di pakai dari nenek moyang kita sejak zaman dahulu. Karena zaman semakin maju jangan sampai kita terhanyut oleh kemajuan tersebut.
5.2 Saran-saran
1. Semua butir-butir isi makalah uini yang mempunyai hikmah yang positif dapat hendaknya kita kembangkan dan digali sedalam-dalamnya
2. menghilangkan semua nilai-nilai yang dianggap negatif
3. Supaya kita dapat melestarikan dan menuju masyarakat adil dan makmur, sekaligus menjungjung tinggi nilai-nilai luhur kebudayaan bangsa.













DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
2.1 MENAIKKAN SIRIH
2.2 MEMINANG
2.3 PERTUNANGAN
BAB III PERSIAPAN MENJELANG KAWIN
A. UPACARA PERNIKAHAN
B. MENEBANG PISANG
C. MAHANTA SIRIAH
D. MALAM BAINAI
BAB IV KENDURI
4.1 PENYAMBUTAN DI RUMAH ANAK DARO
4.2 MANJAPUIK MARAPULAI
4.3 MAHANTA NASI
BAB V PENUTUP
5.1 SIMPULAN
5.2 SARAN-SARAN

Selasa, 28 Februari 2012

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis telah dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “judul”. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata pelajaran …….
Dalam penulisan makalah ini penulis banyak menghadapi hambatan dan kendala. Namun, berkat bantuan dari berbagai pihak penulis dapat menyelesaikannya dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak ….. yang telah memberikan bimbingan kepada penulis.
2. Orangtua penulis yang telah memberikan do’a, dorongan, serta kasih sayang kepada penulis dengan setulus hati yang merupakan kekuatan tersendiri bagi penulis untuk menyelesaikan makalah ini.
3. Teman-teman sekelompok yang senantiasa selalu bersama di saat-saat senang, sulit dan penuh perjuangan ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini mungkin masih jauh dari kesempunaan. Untuk itu penulis dengan senang hati menerima tanggapan, kritikan dan saran yang membangun dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kepada Allah SWT jualah kita berserah diri semoga karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

tempat, Februari 2012


Penulis

HARTA WARISAN DI MINANGKABAU

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Minangkabau adalah suatu tempat di Indonesia dimana orang dapat menjumpai masyarakat yang diatur menurut tertib hukum ibu, sehingga dapat dilihat bahwa “faktor turunan darah menurut garis ibu” merupakan faktor yang mengatur organisasi masyarakatnya. Kehidupan yang diatur menurut tertib hukum ibu itulah yang disebut dalam istilah sehari-hari sebagai kehidupan menurut adat.
Hukum waris Minangkabau yang merupakan bahagian dari hukum adat yang banyak seluk beluknya karena pada satu pihak hukum waris Minangkabau merupakan kelanjutan yang sesuai dengan tertib susunan menurut hukum ibu, akan tetapi pada pihak lain, ia mempunyai sangkut paut dan dipengaruhi oleh hukum syarak (agama). Sesuai dengan tertib susunan menurut hukum ibu, maka ahli waris menurut hukum adat Minangkabau dihitung dari garis ibu. Pada masyarakat Minangkabau, harta peninggalan dapat berupa harta pusaka tinggi dan atau harta pusaka rendah (harta pencarian). Kalau yang dibicarakan harta pusaka tinggi, maka ahli warisnya ialah anggota-anggota keluarga dilihat dari garis ibu. Namun, kalau yang dibicarakan itu harta pusaka rendah (harta pencarian), maka kepada siapa harta itu diwariskan tergantung dari kemauan si meninggal pada masa hidupnya.
Pengaruh Hukum Islam sangat kental di dalam bidang pewarisan masyarakat Minangkabau yang tampak nyata. Meskipun cara pewarisan antara hukum adat Minangkabau yang berdasarkan garis keturunan Ibu sangat bertolak belakang dengan kewarisan Islam yang pembagiannya berdasarkan garis kebapakan atau patrilineal.
Berdasarkan uraian diatas, Penulis tertarik untuk menelaah lebih jauh mengenai harta warisan pada masyarakat Minangkabau. Untuk itu penulis 3mengangkat makalah dengan judul “Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan di Minangkabau”.

1.2 Tujuan Penulisan
Segala sesuatu pasti mempunyai tujuan tertentu, karena jika tidak sesuatu itu hanya akan sia-sia saja. Begitu pula halnya dengan makalah ini. Berdasarkan penjelasan tentang harta warisan pada latar belakang di atas, penulis mengangkat makalah ini dengan tujuan:
1. Untuk mengetahui tentang pelaksanaan pembagian harta warisan di lingkungan adat Minangkabau.
2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang timbul dalam pelaksanaan pembagian harta warisan dalam lingkungan adat Minangkabau.
3. Untuk mengetahui upaya untuk mengatasinya hambatan yang timbul.

1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah sangat penting untuk menyelesaikan sebuah maasalah. Dengan adanya batasan masalah, suatu masalah yang dibahas ruang lingkupnya lebih spesifik. Sehingga masalah tersebut akan lebih mudah untuk diselesaikan.
Adapun makalah ini hanya akan membicarakan tentang:
1. Macam-macam harta warisan di Minangkabau
2. Pelaksanaan pembagian harta warisan dalam lingkungan adat Minangkabau.
3. Kontroversi hukum islam terhadap pembagian harta warisan di Minangkabau
1.4 Manfaat Penulisan
Apapun yang kita lakukan dapat dikatakan baik jika bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Memberikan masukan untuk memecahkan masalah pembagian harta warisan pada masyarakat Minangkabau.
2. Manfaat Praktis
Memberikan sumbangan ilmu pengetahuan agar dapat menuju kodifikasi hukum dalam rangka mewujudkan Hukum Kewarisan Nasional.





















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hukum Kewarisan Adat
Syarat beralihnya harta seseorang yang telah meninggal kepada yang masih hidup adalah adanya hubungan silaturrahmi atau kekerabatan antara keduanya. Adanya hubungan kekerabatan ditentukan oleh hubungan darah dan perkawinan. Pada tahap pertama, seorang anak yang lahir dari seorang ibu mempunyai hubungan kerabat dengan ibu yang melahirkannya itu. Hal ini tidak dapat dibantah karena sia anak keluar dari rahim ibunya tersebut. Oleh karena itu hubungan yang terbentuk ini adalah alamiah sifatnya.
Dengan berlakunya hubungan kekerabatan antara seorang anak dengan ibunya, maka berlaku pula hubungan kekerabatan itu dengan orang-orang yang dilahirkan oleh ibunya itu. Dengan begitu secara dasar terbentuklah kekerabatan menurut garis ibu (matrilineal).
Berdasarkan hubungan perkawinan, maka seorang istri adalah ahli waris suaminya dan suami adalah ahli waris bagi istrinya. Berlakunya hubungan kewarisan antara suami dan istri dengan didasarkan telah dilangsungkan antara keduanya akad nikah yang sah.

2.2 Macam-Macam Harta Warisan
Harta warisan di Minangkabau dikenal dengan harta pusako, yaitu harta peninggalan seseorang yang telah meninggal dunia dan diwarisi oleh ahli waris menurut ketentuan yang berlaku sepanjang yang diberlakukan oleh adat dan syarak.
Dimana harta tersebut dibedakan menjadi dua bagian:
1. Harta Pusako Tinggi.
2. Harta Pusako Rendah.
Harta Pusako tinggi adalah harta yang diperoleh dengan tambilang besi, yaitu harta yang diperdapat oleh seseorang dengan manaruko. Yang dimaksudkan dengan manaruko tersebut adalah membuat/ mengolah sawah jo ladang dari wilayat, bumi yang belum diolah sehingga diolah dengan mempergunakan alat perkakas diantaranya dikenal dengan tambilang besi.
Harta Pusako tinggi inilah yang diwarisi secara turun temurun dari Niniak kepada Datuk dari Datuak kepada Mamak dan dari mamak kepada Kemenakan menurut aturan sepanjang ketentuan adat yang berlaku. Harta pusako tinggi itu antara lain: Rumah Gadang, Pandam Pakuburan, Sawah Ladang, Hutan Tanah, luak tapian, dan dangau paladangan.
Dalam harta pusako tinggi tersebut ada hutan tanah yang telah diolah dan ada yang belum diolah oleh manusia namun telah ada rumusan atau aturan menurut adat warih maupun tutur yang diterima secara turun temurun ada orang yang berhak memilkinya; “ Hak bamiliak Harta Banampunyo”. Maka harta yang belum diolah atau belum ada orang yang diberi hak tunggu, hak mendiami atau hak pakai maka harta tersebut dinamakan dengan harta wilayat. Ada yang disebut dengan Harta wilayat nagari ada yang disebut dengan harta wilayat suku, dan ada yang disebut dengan harta wilayat kaum. Penggunaan dan pemanfaatan harta wilayat tersebut diatur menurut aturan yang berlaku sepanjang adat dan diberlakukan oleh nagari, suku maupun kaum yang berhak menguasai dan mengolah harta tersebut.
Disamping itu Minangkabau mengenal Harta Pusako Rendah yaitu harta yang diperoleh oleh seseorang tidak dengan mempergunakan Tambilang Besi, artinya tidak manaruko, tidak membuat dan tidak mengolah hutan, tanah, wilayah, bumi ini melainkan diperdapat dengan Tambilang Emas, hadiah maupun hibah dari orang lain.
Harta pusako rendah inilah yang diwarisi oleh anak maupun cucu yang pengaturannya atau pembagiannya akan diatur lebih sempurna menurut hukum Faraid, yaitu hukum pembagian harta pencaharian menurut ajaran Agama Islam.

2.3 Cara-Cara Pewarisan
a. Pewarisan Harta Pusaka Tinggi
Harta pusaka adalah harta yang dikuasai oleh kaum secara kolektif, Maka harta pusaka tetap tinggal pada rumah yang ditempati oleh kaum untuk dimanfaatkan bersama oleh seluruh anggota kaum itu. Penerusan harta atau peranan pengurusan atas harta pusaka hanya menyangkut harta pusaka tinggi yang murni, dengan arti belum dimasuki unsur harta pencarian. Harta pusaka hanya berhak dilanjutkan oleh keturunan dalam rumah itu dan tidak dapat beralih kerumah lain walaupun antara kedua rumah itu terlingkup.
b. Pewarisan Harta Bawaan
Harta bawaan ialah harta yang dibawa oleh seorang suami kerumah istrinya pada waktu perkawinan. Oleh karena itu, harta bawaan adalah hak penuh si suami, maka tidak ada hak istri didalamnya. Bila suami meninggal, maka yang menyangkut harta bawaan berlakulah ucapan adat “bawaan kembali, tepatan tinggal”, Yaitu pulangnya harta itu kembali ke asalnya yaitu kaum dari suami.
c. Pewarisan Harta Tepatan
Yang dimaksud dengan harta tepatan atau harta dapatan ialah harta yang telah ada pada istri pada waktu suami kawin dengan istri itu. Kaum suami tidak berhak sama sekali atas harta itu. Suami sebagai pendatang, karena kematiannya tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap harta yang sudah ada di rumah si isteri.



d. Pewarisan Harta Pencarian
Harta pencarian yang didapat seseorang dipergunakan untuk menambah harta pusaka yang telah ada. Dengan demikian, harta pencarian menggabung dengan harta pusaka bila yang mendapatkannya sudah tidak ada. Dengan menggabungkannya dengan harta pusaka, dengan sendirinya diwarisi oleh generasi ponakan.
Bila harta pencarian tercampur langsung dengan harta pusaka, maka masalahnya lebih rumit dibandingkan dengan harta pencarian yang didalamnya hanya terdapat unsur harta kaum. Kerumitan itu disebabkan oleh karena hak ponakan pasti terdapat didalamnya, hanya kabur dalam pemisahan harta pencarian dari harta kaum. Oleh karena tidak adanya kepastian tentang pemilikkan harta itu, sering timbul sengketa yang berakhir di pengadilan antara anak dan ponakan.
e. Pewarisan Harta Bersama
Yang dimaksud harta bersama disini ialah harta yang didapat oleh suami istri selama ikatan perkawinan. Harta bersama ini dipisahkan dari harta bawaan yaitu yang dibawa suami kedalam hidup perkawinan dan harta tepatan yang didapati si suami pada waktu ia pulang ke rumah istrinya itu walaupun sumber kekayaan bersama itu mungkin pula berasal dari kedua bentuk harta tersebut.

2.4 Kontroversi Hukum Islam
Menurut hukum Islam, harta haruslah diturunkan sesuai dengan faraidh yang sudah diatur pembagiannya antara pihak perempuan dan laki-laki. Namun di Minangkabau, seluruh harta pusaka tinggi diturunkan kepada anggota keluarga perempuan dari garis keturunan ibu. Hal ini menimbulkan kontoversi dari sebagian ulama.

Ulama Minangkabau yang paling keras menentang pengaturan harta pusaka tinggi yang tidak mengikuti hukum waris Islam adalah Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syeikh Tahir Jalaluddin Al-Azhari, dan Agus Salim. Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, imam dan khatib Masjidil Haram Mekkah, menyatakan bahwa harta pusaka tinggi termasuk harta syubhat sehingga haram untuk dimanfaatkan. Beliau konsisten dengan pendapatnya itu dan oleh sebab itulah ia tidak mau kembali ke ranah Minang. Sikap Abdul Karim Amrullah berbeda dengan ulama-ulama di atas. Beliau mengambil jalan tengah dengan memfatwakan bahwa harta pusaka tinggi termasuk kategori wakaf, yang boleh dimanfaatkan oleh pihak keluarga namun tidak boleh diperjualbelikan.




















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adat Minangkabau menjalankan asas kekerabatan Matrilineal. Kehidupan mereka ditunjang oleh harta yang dimiliki secara turun temurun. Harta tersebut dimiliki oleh seluruh anggota keluarga. Dalam mekanisme peralihan harta berlaku asas kolektif. Dengan masuknya agama Islam di Minangkabau telah memberikan pemahaman yang baru terhadap harta yang ada di dalam sebuah rumah. Agama Islam dan adat telah menyatu dalam tingkah laku suku bangsa Minangkabau. Ajaran Islam memberikan istilah baru terhadap harta yang diperoleh suami-istri selama melangsungkan perkawainan sebagai harta pencarian. Harta pencarian diwariskan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Harta pencarian tidak lagi diwarisi oleh keponakan secara adat, tetapi diwarisi oleh anak dan istri secara hukum Faraid.
3.2 Saran
Masuknya ajaran Islam di Minangkabau sebaiknya harus disadari secara penuh oleh masyarakat Minangkabau bahwa ajaran Islam itu membawa
banyak perubahan kepada hal yang jauh lebih baik dengan tidak meninggalkan ajaran adat yang sudah digariskan oleh nenek moyang orang Minangkabau. Jika hal ini sudah dapat disadari secara penuh barulah terhadap pembagian warisan
khususnya harta pencarian dapat terlaksana dengan baik dan konflik yang timbul dalam pelaksanaan pembagian tersebut dapat diminimalisir, sehingga falsafah “adat basandi syara’ dan syara’ basandi Kitabullah” artinya
adat berpedoman kepada agama, dan agama berpedoman kepada kitab Allah yaitu Al quran dapat berjalan sebagaimana mestinya.


DAFTAR PUSTAKA

Mediani-mediani.blogspot.com
http://www.cimbuak.com
http://www.my.opera.net
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Budaya_Minangkabau&oldid

Senin, 27 Februari 2012

karya sastra minagkabau

BAB I
PENGERTIAN KARYA SASTRA

Karya sastra adala karya seni, yang dapat memberi kepuasan bagi penikmatnya. Karya sastra diungkapkan melalui bahasa. Jadi, karya sastra adalah karya seni yang mengungkapkan bahasa sebagai medium (alat penyampaiannya).
Karya sastra berbicara tentang hidup dan kehidupan, tentang manusia dan kemanusiaan. Melalui karya sastra dapat dilihat penderitaan manusia, kebahagiaannya, perilaku manusia dengan segala aspeknya, dan segala hal yang menyangkut dengan sifat-sifat manusia. Bahkan, budayanya dalam satu kurun tertentu dapat dilihat di dalam karya sastra.
Karya sastra Minangkabau adalah karya seni yang menggunakan bahasa Minangkabau sebagai mediumnya. Isinya berbicara tentang masyarakat Minangkabau, tentang budaya Minangkabau, tentang orang-orang yang hidup di Minangkabau dengan segala tingkah lakunya.
Melalui karya sastra Minangkabau dapat dibaca budaya minangkabau. Kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat, tata pergaulan, dan falsafah yan dianut masyarakatnya dapat dilihat di dalam karya sastranya. Oleh karena itu, karya sastra juga disebut sebagai gambaran kehidupan masyarakat pada kurun waktu dan daerah tertentu.
Kesusastraan Minangkabau dapat dibagi atas dua jenis, yang berdasarkan penggunaan bahasanya. Yaitu prosa dan puisi.










BAB II
JENIS KARYA SASTRA MINANGKABAU

1. Karya Sastra Puisi
Puisi merupakan karya sastra yang diungkapkan dengan bahasa terikat, yang dapat dilihat pada irama, baris, dan baitnya. Karya sastra puisi Minangkabau biasanya berbentuk pantu
 Pantun, pasambahan, alua, dan pidato adat.
Pantun adalah puisi yang terdiri dari kalimat yang berirama a-b a-b. Karena itu, pantun umumnya memiliki baris dengan jumlah genap yang terdiri dari dua, empat, enam, delapan, sepuluh, dan dua belas. Setengah dari baris pantun disebut dengan sampiran dan setengahnya merupakan isi. Namun, pada pantun Minangkabau, sampiran mempunyai makna sejajar dengan isinya.
Pantun di minangkabau sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, menjadi bungo dalam kaba, menjadi hiasan dalam pidato, dan dijadikan lirik dalam lagu-lagu Minangkabau. Contoh pantun:
Kok upiak pai ka ladang
Baok rotan ka tali timbo
Kok upiak kini lah gadang
Adat sopan nan ka dijago
O, upiak rambahlah paku
Nak tarang jalan ka parak
O, upiak ubahlah laku
Nak sayang urang ka awak
Macam-macam pantun:
• Berdasarkan jumlah isinya: pantun dua baris, empat baris, enam baris, delapan baris, sepuluh baris, dan dua belas baris. Pantun yang terdiri dari enam sampai dua belas baris sering disebut dengan talibun, yang banyak ditemukan dalam karya sastra Minangkabau.
• Berdasarkan isinya: pantun adat, pantun tua, pantun muda, pantun suka, pantun duka.
Berdasarkan keterkaitan antar baris dalam pantun: seloka dan gurindam. Seloka adalah pantun empat baris yang terdiri dari beberapa untai dengan tiap untai pantun berhubungan dengan unti berikutnya. Biasanya baris kedua dan keempat disisipkan menjadi baris pertama dan ketiga pada untai berikutnya. Gurindam merupakan pantun yang tidak mempunyai sampiran, tetapi langsung masuk kepada kandungan isi yang dimaksudnya, yaitu kandungan isi yang menjadi tujuan pantun. Gurindam dapat terdiri dari dua baris sampai dengan dua belas baris.
Contoh gurindam dua baris;
Awa diingek akia indak
Alamaik badan nan ka rusak

 Pasambahan
Pasambahan merupakan rangkaian puisi panjang yang biasanya dilantunkan untuk acara-acara pertemuan resmi, acara syukuran, perhelatan. Pasambahan ini biasa juga dilantunkan secara bersahut-sahutan.
 Pidato
Sama dengan pasambahan, pidato adalah rangkaian puisi panjang yang dibawakan ketika acara-acara penting.

2. Karya Sastra Prosa
Prosa Minangkabau pada mulanya diungkapkan secara lisan. Setelah aksara Arab dikenal masyarakat Minangkabau, prosa ditulis dalam aksara Arab yang kemudian dikenal dengan tulisan Arab Melayu. Ketika Aksara Latin dikenal pula, prosa itupun disalin dalam tulisan tersebut. Bentuk-bentuk prosa Minangkabau:

 Tambo
Tambo merupakan uraian sejarah dan perjalanan adat yang dituangkan ke dalam karya sastra. Tambo adalah prosa Minangkabau yang paling penting dengan menggunakan bahasa Minangkabau klasik atau kuno. Tambo tidak hanya menghimpun peristiwa sejarah, namun juga merekam suasana dan keberadaan alam minangkabau dengan segala dinamika masa lalu.
 Kaba
Kaba merupakan bentuk prosa Minangkabau yang umum, yang berbentuk rangkaian cerita. Cerita dalam kaba pada umumnya bertujuan sebagai sarana hiburan, atau pelipur lara. Kaba digolongkan menjadi dua:
• Kaba Klasik
Kaba klasik adalah rangkaian cerita yang diangkat dari hikayat. Contoh dari kaba klasik misalnya kaba Malin Deman, Anggun Nan Tongga, Si Umbuik Mudo, dll. Kaba klasik juga bisa berupa rangkaian cerita yang diangkat dari cerita yang mempunyai hikayat. Contohnya: kaba Sabai Nan Aluih, Talipuak Layua, Tupai Janjang, Cindua Mato, dll.
• Kaba Baru
Kaba baru adalah rangkaian cerita yang diciptakan untuk permainan randai. Randai telah mengalami pembaruan, unsur cerita menjadi bagian utama dari acara randai. Pembaruan ini dilakukan oleh seniman-seniman randai daerah Luhak Lima Puluh Kota atau masyarakat randi di sekitar Payakumbuh. Dengan menempatkan cerita sebagai bagian utama, banyak cerita-cerita baru yang dikarang. Cerita untuk randai inilah yang disebut sebagai kaba baru. Contoh kaba baru: Si Marantang, Siti Rabiatun, Santan Batapih, Angku Kapalo Sei Teleng, dll.




BAB III
NILAI-NILAI KEINDAHAN
(ESTETIKA KARYA SASTRA MINANGKABAU)

1. Rujukan Konsep Keindahan
Unsur keindahan merupakan unsur yang sangat penting dalam sebuah karya sastra. Keindahan menyangku masalah rasa. Sedangkan perasaan, antara seseorang dengan orang lainnya tidaklah sama. Akibatnya, sampai sekarang belum ada ukuran objektif tentang keindahan yang dapat diterima oleh seiap orang.
Meskipun mengukur keindahan itu rumit, namun keindahan itu diakui keberadaannya. Keindahan itu dapat dirasakan, namun sulit untuk mengungkapkannya. Itulah sebabnya maka keindahan tetap perlu dibicarakan.
Menurut Thomas Aquino, seorang ahli sastra mengemukakan keindahan itu mengandung tiga syarat;
• Keutuhan atau kesempurnaan.
• Keselarasan bentuk atau keharmonisan.
• Kejelasan atau kecemerlangan.
Menurut J. Grace ahli sastra lainnya, keindahan itu mempunyai tiga ciri atau unsur pokok:
• Keterpaduan(integrity)
• Keselarasan(harmony)
• Kekhasan(induviduation)

2. Keindahan dalam Karya Sastra Puisi Minangkabau
Karya sastra puisi memiliki keindahan yang setara dengan karya lainnya, hal ini karena gaya bahasa ataupun bahasa yang digunakan adalah sama. Apabila diresapi banyak sampiran memiliki kekuatan metafora(simbol tentang perlunya kegigihan dalam berusaha). Kekuatan puisi Minangkabau maknanya menukik kian dalam serta bahasanya enak diucapkan. Contohnya:

Lauik ditimbo mungkin kariang
Gunuang diruntuah amuah data
Dek samuik lah runtuah tabiang
Apolai dek manusia nan baraka
Keterkaitan, keharmonisan dan kelarasan kata-kata dan perumpamaan yang dipakai menghasilkan suasana jiwa yang khas saat meresapinya.

3. Keindahan dalam Karya Sastra Prosa
Keindahan karya sastra prosa terletak pada keragaman isi yang dikandungnya serta bahasa yang digunakan tidak kaku dan tidak bermakna sempit. Perumpamaan yang dipakai dalam prosa sering membuat orang terjebak dalam memahaminya, seakan-akan penggubah prosa mengada-ada. Perumpamaan yang terdapat pada prosa Minangkabau berisi tentang sistem kemasyarakatan yang dicita-citakan nenek moyang orang Minangkabau. Yaitu sistem kemasyarakatan yang mencontoh pada sistem kemasyarakatan Cina yang bersuku-suku, yang memiliki landasan intelektual seperti orang romawi, serta betumpu pada gaya kepemimpinan Sultan Iskandar Zulkarnain yang mengutamakan persatuan dalam menebar kebaikan dan ketentraman, dengan memerangi kemusyrikan dan kekafiran. Jadi bahasa tambo tidaklah berupa doktrin. Namun bahasa tambo hanya mengarahkan akal pikiran, sesuai dengan fasafah “Alam Takambang Jadi guru”. Artinya, tambo tidak hanya mengungkapkan tentang sebuah konsep atau peristiwa, namun lebih jauh ia juga menyajikan penggambaran latar belakang sebuah konsep tau peristiwa yang diungkapkan. Tambo juga dihiasi dengan berbagai ragam bahasa sastra Minangkabau seperti petatah, petitih, pituah, mamangan, pameo, kias, lengkap dengan pantun, seloka, dan gurindam.






BAB IV
NILAI MORAL
DALAM KARYA SASTRA MINANGKABAU

1. Nilai Moral dalam Karya Sastra Puisi
Nilai-nilai moral dalam karya sastra puisi Minangkabau dapat ditemukan dalam sejumlah pantun ataupun pasambahan. Nilai-nilai moral ini terutama mengandung ajaran tentang perlunya membina budipekerti. Contohnya:
Nan kuriak iyolah kundi
Nan merah iolah sago
Nan baiak iolah budi
Nan indah ioah baso
Pantun ini mengandung nilai-nilai moral yang sangat tinggi. Dengan mengingatkan masyarakat agar dalam kehidupan ini selalu mengutamakan budi pekerti yang baik.Pantun juga mengisyaratkan agar manusia dalam hidupnya membiasakn diri untuk memakai bahasa yang terbaik dan indah.dapat diwujudkan dengan bertingkah laku,cara bersikap dan berbicara dengan penuh rasa santun.
Jadi nilai-nilai moral yang terkandung pada pantun tersebut bertujuan untuk mendidik masyarakat.Yaitu mendidik agar dalam segala bentuk dan perilakunya untuk mencapai tujuan hidup,manusia perlu mengutamakan kehidupan yang senantiasa menghayati dan menjaga budi pekerti yang baik.

2. Nilai Moral dalam Karya Sastra Prosa Minangkabau
Karya sastra rosa Minangkabau juga mengandung nilai-nilai moral yang tinggi.Hampir tidak jauh berbeda dengan nilai moral yang terdapat pada puisi Minang,hanya saja berbeda dalam bentuk dan cara penyampaiannya.





BAB V
CIRI-CIRI KARYA SASTRA MINANGKABAU

1. Karya Sastra Prosa
Adat Minangkabau pada hakikatnya adalah suatu susunan peraturan hidup yang diatur dengan kata-kata. Kata-kata yang dimaksudkan di sini adalah falsafah hidup orang minangkabau yang dikenal sebagai falsafah alam takambang jadi guru. Kata-kata yang dipakai dalam karya sastra minangkabau adalah kata-kata pilihan yang dirangkai sedemikian rupa sehingga bahasanya menjadi indah dan kaya dengan makna. Keindahan dalam bahasa memberikan keindahan bagi jiwa. Sedangkan maknanya mengandung pelajaran yang sangat berguna bagi kehidupan.
Kata-kata dalam karya sastra Minangkabau sangat beragam dan umumnya memiliki makna yang bersayap. Kaya dengan perumpamaan dan kiasan. Sehingga karya sastra Minangkabau tidak hanya memiliki makna seperti yang tersurat, tetapi juga banyak makna yang tersirat. Akibatnya, bahasa dalam karya sastra Minangkabau tidak bisa langsung ditafsirkan begitu saja.
a. Kebahasaan Karya Sastra Prosa
Karya sastra prosa Minangkabau lebih terlihat sebagai penggambaran usaha orang Minangkabau dalam memahami alam semesta yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan. Sesuai dengan falsafah alam takambang jadi guru. Tambo adalah karya sastra prosa yang paling khas di Minangkabau, karena bahasanya memiliki nilai sastra yang tinggi, sehingga orang sulit untuk memahaminya.
Perbendaharaan bahasa yang terdapat dalam tambo adalah bahasa Minangkabau klasik, karena itu bahasa tambo penuh dengan simbol-simbol dan kode-kode bahasa yang sifatnya semu, bersayap dengan seribu makna yang dikandungnya. Bahasa tambo mencerminkan perwatakan orang Minangkabau yang sangat idealis, yang kaya dengan imajinasi dan mengutamakan rasa.
Bentuk karya sastra prosa Minangkabau terpenting lainnya adalah kaba, yang juga merupakan produk yang sangat khas dari kesusastraan Minangkabau. Kekhasan dari kaba yakni bentuk bahasanya yang liris dan ungkapan-ungkapan yang plastis serta menggunakan banyak pantun di dalamnya. Bahasa kaba umumnya mempunyai susunan yang tetap, yaitu empat buah kata dalam sebuah kalimat serta ungkapan-ungkapannya juga tetap, terutama dalam mengisahkan suatu peralihan peristiwa, waktu, dan suasana. Sebagian ada juga yang terdiri dari tiga kata bila kalimat itu bersuasana penegasan. Bentuk dan tingkah laku orang pun diungkapkan dengan bahasa klise.
b. Isi Karya Sastra Prosa
Tambo berisi dua hal penting, pertama uraian sejarah, kedua perjalanan adat. Tambo bisa dikategorikan sebagai berikut:
• Cerita rakyat
Mengungkapkan tokoh-tokoh dan peristiwa masa lalu yang hadir karena dorongan untuk menyampaikan pesan atau amanat tertentu.
• Dongeng atau hikayat
Menceritakan peristiwa aneh dan menakjubkan tentang kehidupan manusia serta menceritakan tentang asal usul suatu negeri.
• Sastra kitab dan sejarah
Berisi cerita rekaan yang mengandung nilai-nilai sejarah yang bisa dibuktikan seara ilmiah.
• Prosa undang-undang
Berisi tentang ketentuan-ketentuan dan hukum adat Minangkabau.
Karya sastra prosa kaba tidak serumit tambo, karena isi cerita berupa cerita pelipur lara, namun tetap memberikan suatu nilai ajaran tentan kepribadian yang luhur. Kaba banyak berisi pantun serta falsafah, yang dituangkan dalam petatah, petitih, pituah, mamangan, dll yang mengambil bentuk ungkapan dari bentuk, sifat, dan kehidupan alam.
c. Tema Karya Sastra Prosa
Tema adalah gagasan utama (landasan) dalam sebuah karya. Unsur dari tema adalah pokok permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai pengarang melalui karya sastra tersebut. Pokok permasalahan adalah persoalan utama yang menjadi inti keseluruhan cerita pada karya tersebut. Tujuan yang ingin dicapai pengarang adalah amanat tertentu yang mencerminkan kesan pembaca dan jalan cerita yang disajikan pengarang kepada pembaca.
Untuk mengetahui tema sebuah karya sastra prosa seperti kaba, kita perlu menjawab pertanyaan berikut ini:
• Siapakah yang menjadi tokoh utama dari karya sastra tersebut?
• Apa yang menjadi keinginan atau motivasi tokoh utama itu?
• Apakah masalah yang dihadapi tokoh utama tersebut?
• Apakah jalan keluar yang diambilnya?
Jadi, pola tema cerita kaba hampir sama yaitu pertentangan antara kebaikan dan keburukan, dimana akhirnya kebaikan akan selalu keluar menjadi pemenang.

2. Karya Sastra Puisi
a. Kebahasaan Karya Sastra Puisi
Puisi Minangkabau umumnya berbentuk pantun dan pasambahan. Pantun Minangkabau berbeda dengan pantun melayu lainnya. Pantun Minangkabau memiliki makna yang lebih dalam dibanding dengan bagian yang bukan sampiran. Jadi, sampiran pada pantun Minangkabau tidak sekedar pemanis irama kata belaka. Tidak ada kata-kata yang mubazir dalam pantun ini karena bahasanya saling mendukung serta baris ketiga dan keempat yang lebih lugas dapat menjadi pengantar yang pas untuk memahami pameo yang menjadi sampiran. Contoh:
Tagangnyo tajulai-julai
Kanduanyo badantiang-dantiang
Hati lapang paham salasai
Cukuik syarat kato jo rundiang
Pasambahan adat adalah satu bagian dari puisi, yang lebih menyerupai teks pidato dengan menggunakan gaya bahasa sastra, sehingga sering disebut pidato pasambahan. Gaya bahasa pasambahan adat hampir sama dengan gaya bahasa kaba dan pantun. Kalimat dalam pasambahan adat panjang-panjang dengan setiap kalimat mempunyai banyak anak kalimat. Pasambahan adat lebih banyak berisi bahasa hukum, undang-undang, ajaran moral dan sebagainya. Pidato pasambahan atau pasambahan adat biasanya dilakukan dengan bersahut-sahutan. Pasambahan adat merupakan suatu dialog adat tentang hal-hal yang terkandung di dalam upacara adat.
b. Isi Karya Sastra Puisi
Isi dari karya sastra puisi minangkabau sangat beragam. Pantun adat yaitu pantun yang biasanya digunakan dalam pasambahan adat dengan isi berupa kutipan dari undang-undang, hukum, tambo, dsb. Misalnya seperti pantun berikut ini:
Gantang di bodi caniago
Cupak nan di koto piliang
Adat mamakai syarak mangato
Tujuan satu indak basimpang
Pantun tua yaitu pantun yang berisi nasehat dari orang tua kepada orang muda.misalnya:
Kok buyuang ka pai mandi
Mandilah di tapi lauik
Kok indak mandi di pantai
Elok mandi di hulu-hulu
Mandi bakusuak daun pagaran
Kok buyuang mancari kanti
Carilah urang patuik-patuik
Kok indak urang nan pandai
Elok dicari anak panghulu
Urang batunjuak baajaran
Pantun muda yaitu pantun yang isinya biasa digunakan dalam pergaulan muda-mudi, misalnya:
Kalupak ambiak ka timbo
Panimbo aia nan taganang
Jo kida hapuih aia mato
Jo suok jawek kasiah sayang
Pantun suka atau pantun jenaka yaitu pantun yang isinya berupa ejekan, bahan tertawaan, atau teka-teki. Contoh:
Hilia padati Batang Gadih
Panuah muatan kayu kalek
Maliek arancak anak gadih
Mudo paratian hati pak gaek
Pantun duka adalah pantun yang berisi ungkapan perasaan duka dan rasa sedih. Contoh:
Luruih jalan ka Cubadak
Basimpang jalan ka Kumpulan
Babelok lalu ka Palupuah
Ibaraik api mamakan dadak
Diluanyo indak mangasan
Di dalam hanguih hancua luluah
Jadi ciri-ciri karya sastra minangkabau dapat diungkapkan sebagai berikut:
• Menggunakan bahasa minangkabau.
• Berlatar belakang budaya minangkabau
• Berbicara tentang manusia dan kemanusiaan minangkabau
• Berbicara tentang hidup dan kehidupan masyarakat minangkabau
• Diwarnai oleh kesenian minangkabau







BAB VI
PETATAH DAN PETITIH

1. Pengertian dan Fungsi Petatah
Asal kata pepatah adalah “tatah”, artinya pahatan atau patokan atau tuntunan. Jadi, petatah adalah kata-kata yang berisi norma-norma yang bisa menjadi tuntunan kehidupan manusia sehari-hari. Petatah mengandung banyak pelajaran kehidupan diantaranya menjaga hubungan antar sesama masyarakat, mengerti dengan hak dan kewajibannya, dan menggunakan pikiran secara arif dan bijaksana sehingga kehidupan menjadi lebih tentram dan bahagia. Jadi, fungsi petatah yaitu : mengatur hubungan antra manusia, antra manusia dengan alam dan antra manusia dengan lingkungan sosialnya. Berfungsi sebagai hukum dasar atau patokan utama dalam masyarakat Minangkabau
Contoh petatah
“ Hiduik dikanduang adat “

2. Pengertian dan Fungsi Petitih
Kata petitih berasal dari kata titi, atau titian, yaitu jembatan sederhana yang terbuat dari bambu atau kayu yang digunakan untuk menyebrangi sungai. Jadi kata petitih bisa diartikan sebagai aturan yang mengatur pelaksanaan adat dengan seksama.Ia merupakan peraturan operasional, pertauran pelaksanaan adan batasan pertauran di dalam masyarakat. Yang berfungsi untuk pertauran pelaksanaannya. Jadi antara petatah dan petitih memiliki hubungan atas bawah (hirarkris).
Contoh petitih
“ Adat hiduik tolong manolong,
Adat mati janguak manjanguak,
Adat lai bari mambari,
Adat indak basolang tenggang,
Kaba baiak baimbauan,
Kaba buruak bahamabauan “

3. Ajaran Dalam Pepatah dan Petitih
Di dalam petatah dan petitih akan terdapat jaran. Ajaran itu mencakup segala aspek kehidupan masyarakat Minangkabau. Ajaran itu pada hakikatnya berhubungan dengan kehidupan orang Minangkabau sebagai individu, kehidupan orang Minangkabau dalam bermasyarakat, dan kehidupan orang Minangkabau menurut fungsinya di dalam masyarakat.
Banyak petatah Minangkabau yang menuntun kehidupan individu (pribadi) seseorang. Setiap individu orang Minangkabau di arahkan untuk berbuat baik, untuk berbudi luhur, dan untuk berjasa kepada orang lain. Hal itu misalnya terungkap dalam petatah berikut:
Pulai Batingkek Naiak,
Maninggakan Rueh jo Buku,
Manusia bapangkek turun,
Maninggakan namo jo jaso.
Harimau mati maninggakan balang,
Gajah mati maninggakan gading,
Manusia mati maninggakan jasa.
Petatah di atas mengungkapkan, setiap individu hendaklah berbuat baik. Perbuatan baik itu bukan hanya akan berguna bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Jika pada saatnya individu telah tiada, ia telah meninggal, orang akan mengingat nama dan jasanya. Hal itu memberi dorongan kepada setiap individu di Minangkabau untuk berusha semaksimal mungkin. Hasil husahanya itu kelak bukan saja berguna bagi diri dan keluarganya, tetapi juga bagi orang lain. Perhatikan lagi petatah berikut :
Nan kuriak iyolah kundi,
Nan merah iyolah sago.
Nan baiak iyolah budi,
Nan indah iyolah baso.
Pulau pandan jauh ditangah,
Dibaliak pulau angso duo.
Hancur badan di kandung tanah,
Budi baiak takana juo.
Batang aua- palantak tungku,
Pangkanyo sarang sipasan,
Ligundi di sawah ladang,
Sariak indak babungo lai.
Mambuhua kalau mambuku,
Mauleh kalau mangasan,
Budi kalau kalihatan,
Hiduik indak baguno lai.
Pantun petatah di atas mengungkapkan betapa pentingnya budi dalam kehidupan individu. Budi menjadi sesuatu yang utama dan amat penting dalam kehidupan. Orang berbudi, keberadaanya selalu mendapat pengakuan masyarakat. Petatah dan petitih memberikan ajaran cara hidup bermasyarakat itu.
Barek samo dipikua,
Ringan samo dijinjing,
Ka bukik samo mandaki,
Kalurah samo manurun,
Nan ado samo di makan,
Nan indak samo dicari,
Saciok bak ayam,
Sadanciang bak basi.
Malompek samo patah,
Manyaruduak samo bungkuak,
Tatungkuik samo makan tanah,
Tatilantang samo minum ambun,
Tarandam samo basah,
Tarapung samo anyuik.
Seseorang pemimpin juga diberi panduan oleh petatah dan petitih. Pemimpin di Minagkabau tidak boleh sembarangan, tidak boleh semena-mena. Ia harus menurut ketentuan yang berlaku, ketentuan yang telah ditetapkan oleh garis dan alur adat. Dalam petatah dan petitih diungkapkan:
Tumbuhan karano ditanam,
Tinggi karano dianjuang,
Gadang karano diamba,
Mulia karano dijunjung,
Bukanyao titiak dari langik,
Bukanyo mambasuaik dari bumi.
Keberadaan seorang pemimpin di Minangkabau karena di buat, tidak datang dengan sendirinya. Oleh karena itu, seorang pemimpin hendaklah selalu menyadari keberadaannya. Ia harus memperhatikan tanggung jawabnya kepada yang dipimpinnya. Selain itu harus arif dan bijaksana dalam melaksanakan tugas kepemimpinan. Seperti diungkapkan:
Ingek jo runciang nan kamancucuak,
Ingek jo dahan kamaimpok,
Ingek jo unak kamanyangkuik,
Tahu jo ombak nan basabuang,
Tahu jo angin nan basiru,
Ingek ujung jo pangka, kok manganai,
Ingek-ingek nan diateh kok maimpok,
Tirih kok datang dari lantai.
Dalam melaksanakan kepemimpinannya, seorang pemimpin di Minangkabau memiliki jenjang dan alur yang jelas.
Kamanakan barajo ka mamak,
Mamak barajo ka panghulu,
Panghulu barajo ka mufakat,
Mufakat barajo ka nan bana,
Bana badiri sandirinyo,
Bana manuruik alua jo patuik,
Manuruik patuik jo mungkin.

Rabu, 25 Mei 2011

karya ilmiah sederhan

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Ayam bangkok dikenal sebagai ayam aduan atau ayam sambung yang sangat tangguh dan berani mati di dalam petarungan. Tulang-tulang jago bangkok besar dan kokoh, gaya bertarungnya trengginas, sabetannya cepat dan pukulan serta tendangannya cukup keras. Lawan tarungnya sering kewalahan menangkis serangan –serangan tersebut.
Adu ayam sudah sejak lama di kenal di nusantara, menurut sejarah Raja singasari yang bernama Anusapati sangat menggemari tontonan adu jago. Tontonan ini juga di saksikan oleh penggawa kerajan. Arena adu jago tersebut tidak sekedar memberikan hiburan kepada penggawa kerajaan, mamun yang lebih penting adalah untuk membangkitkan semagat juang penggawa singasari. Sampai saat ini tontonan adu jago masih di gemari masyarakat.Penggemar ayam bangkok hingga sekarang bertambah banyak. Hal ini di tandai dengan tingginya penjualan ayam bangkok, baik hasil impor, hasil ternak dalam negri, maupun hasil silang dengan ayam lokal.
Masyarakat menggemari ayam bangkok bukan sekedar untuk aduan saja, tetapi karena sosoknya yang gagah, tegap dan kekar serta bunyi kokok nya yang berirama lantang dan keras. Dengan memandang jago bangkok, pemilik akan merasa hatinya tenteram. Dengan demikian ayam bangkok dapat dijadikan obat stress bagi pemiliknya.
1.2 Tujuan Penulisan
Setiap persoalan yang di bahas pasti mempunyai tujuan. Jika persoalan di bahas tanpa tujuan maka hasilnya akan sia-sia begitu saja, oleh sebab itu penulis mengankat karya ini dengan tujuan antara lain:
a) Memperkenalkan ayam bangkok
b) Memaparkan manfaat ayam bangkok
c) Memaparkam penyakit ayam bangkok dan penanggulangannya

1.3 Manfaat Penulisan
Apapun yang kita lakukan dapat dikatakan baik jika dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Sehubuangan dengan hal tersebut penulisan karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat seperti:
a) Mengetahi sosok ayam bangkok
b) Mengetahui manfaat lain dari ayam bangkok
c) Mengetahui beberapa penyakit ayam bangkok dan penanggulangannya.

1.4 Batasan Masalah
Setiap yang kita tulis pasti mempunyai batasan, termasuk karya ilmiah ini . Disini penulis memberikan batasan masalah, hal ini penulis kemukakan mengingat minimnya pengetahuan penulis dan keterbatasan sumber buku yang di miliki, maka karya ilmiah ini hanya dapat mengembangkan tentang :
a) Mengenal ayam bangkok lebih dekat
b) Ayam bangkok multi manfaat
c) Penyakit ayam bangkok dan penanggulangannya.










BAB II
MENGENAL AYAM BANGKOK LEBIH DEKAT


A
yam bangkok sudah sejak lama dikenal dan digemari oleh pencinta ayam di Indonesia. Baik jago maupun babonnya, mempunyai sosok penampilan yang mempesona. Ayam ini bukan asli Indonesia, melainkan berasal dari Ayuthaya, sekitar 100 km dari Bangkok, Thailand.
2.1 Sekilas Tentang Ayam Bangkok
Pertama kali ayam bangkok di kenal di Cina pada 1400 SM. Ayam bangkok jenis ini selalu dikaitkan dengan kegiatan sambung ayam (adu ayam). Lama-kelamaan kegiatan sambung ayam makin meluas pada pencarian bibit –bibit petarung yang andal. Pada masa itu, bangsa Cina berhasil mengawin silangkan ayam kampung mereka dengan beragam jenis ayam jago dari India, Vietnam, Myammar, Thailand dan Laos. Para pencari bibit itu mencari ayam yang sanggup meng-KO lawan cuma dengan satu tendangan serta otaknya jalan waktu bertarung.
Sekitar seabad yang lalu, orang-orang Thailand berhasil menemukan jago baru yang di sebut King’s Chicken. Ayam ini mempunyai gerakan cepat, pukulan yang mematikan dan saat bertarung otaknya jalan. Para penyambung ayam Cina menyebut ayam ini dengan “Leung Hang Ghao” kalau di negri kita sendiri di panggil dengan sebutan sebagai “ Ayam Bangkok”
Asal tahu saja, jago baru ini sukses menumbangkan hampir semua jago domestik Cina . Inilah yang mendorong orang-orang Cina menjelajahi hutan hanya untuk mencari ayam asli yang akan disilangkan dengan ayam bangkok tadi. Harapannya, ayam silangan ini sanggup menumbangkan keperkasaan jago dari Thailand itu, namun hasilnya tak seperti yang diharapkan dan akhirnya ayam bangkok dinobatkan menjadi ayam yang paling tangguh .
Thailand memang tak perlu diragukan lagi sebagai Negara penghasil ayam bangkok unggul, malahan sektor ini sudah di akui sebagai devisa Negara gajah putih tersebut.
Di Indonesia, hobi mengadu ayam sudah lama di kenal kira-kira sejak zaman kerajaan majapahit, kita juga mengenal beberapa cerita rakyat yang melenggenda soal adu ayam seperti,cerita ciung wanara, kamandaka dan cindelaras. Cerita rakyat itu berkaitan erat dengan kisah sejarah dan pituah yang disampaikan secara turun-temurun.
2.2 Ciri-Ciri Ayam Bangkok
Sepintas lalu penampilan ayam bangkok hampir sama dengan ayam kampung di Indonesia, namun mereka yang menggemari ayam aduan atau hobi mengadu ayam dapat dengan cepat membedakan antara ayam bangkok dengan ayam kampung. Untuk lebih jelasnya perbedaan jago kampung dengan ayam bangkok dapat kita lihat pada tabel 6.1 dibawah ini.

Tabel 6.1


Karakteristik
Jago Bangkok
Jago kampung
kepala
Bulat memanjang seperti buah jambel/pinang
Agak bulat atau sedikit oval
Mata
Letak menjorok ke dalam agak sipit,dan bersinar tajam
Menyebul ke luar, bulat,besar dn bersinar terang
Kulit muka
Kasar, tebal, berwarna merah
Halus,tidak tebal, berwarna merah
Jengger
Kecil dan bervariasi
Besar dan bervariasi
Paruh
Besar,kuat melengkung,beralur mulai dari lobang hidung ke  arah muka
Kecil, pendek, tidak beralur
Tulang alis
Menonjol ke depan
Rata
Lubang hidung
Agak ke depan
Di belakang
Badan
Panjang dengan sikap badan tegak
Bervariasi dengan sikap badan agak mendatar
Leher
Panjang dan tegak sejajar badan tegak
Agak pendek,lurus,kuat dan berbulu lebat
Kaki
Panjang, kecil, kuat susunan jari mekar
Besar, agak pendek, kuat, susunan  jari kucup
Bulu badan
Kecil-kecil, kering kemrisik, mengkilat dengan warna bervariasi
Panjang-panjang, mengkilat dengan warna bervariasi
Bulu sayap
Agak pendek, tipis , kaku
Panjang, lebat, lemas
Bulu ekor
Lebat, panjang, kaku, kuat, meruncing kebelakan seperti lidi
Lebat, melengkung ke atas, lemas, mengkilat
Tunggir/berutu
Besar, kuat kedudukannya rata, rapat dengan badan
Sedang, kuat, kedudukan bervariasi
Bunyi kokok
Rata-rata berirama pendek
Rata-rata berirama panjang

Karakteristik Jago Bangkok Jago kampung
kepala Bulat memanjang seperti buah jambel/pinang Agak bulat atau sedikit oval
Mata Letak menjorok ke dalam agak sipit,dan bersinar tajam Menyebul ke luar, bulat,besar dn bersinar terang
Kulit muka Kasar, tebal, berwarna merah Halus,tidak tebal, berwarna merah
Jengger Kecil dan bervariasi Besar dan bervariasi
Paruh Besar,kuat melengkung,beralur mulai dari lobang hidung ke arah muka Kecil, pendek, tidak beralur
Tulang alis Menonjol ke depan Rata
Lubang hidung Agak ke depan Di belakang
Badan Panjang dengan sikap badan tegak Bervariasi dengan sikap badan agak mendatar
Leher Panjang dan tegak sejajar badan tegak Agak pendek,lurus,kuat dan berbulu lebat
Kaki Panjang, kecil, kuat susunan jari mekar Besar, agak pendek, kuat, susunan jari kucup
Bulu badan Kecil-kecil, kering kemrisik, mengkilat dengan warna bervariasi Panjang-panjang, mengkilat dengan warna bervariasi
Bulu sayap Agak pendek, tipis , kaku Panjang, lebat, lemas
Bulu ekor Lebat, panjang, kaku, kuat, meruncing kebelakan seperti lidi Lebat, melengkung ke atas, lemas, mengkilat
Tunggir/berutu Besar, kuat kedudukannya rata, rapat dengan badan Sedang, kuat, kedudukan bervariasi
Bunyi kokok Rata-rata berirama pendek Rata-rata berirama panjang

Bentuk tubuh ayam bangkok yang berkualitas tinggi










BAB III
AYAM BANGKOK MULTI MANFAAT


A
yam Bangkok merupakan ayam yang telah di akui kehebatannya. Ayam Bangkok ini memiliki prospek usaha yang cukup baik karena permintaan terus mengalir. Pada umumnya permintaan tersebut berupa daging , telur, maupun ayam untuk di jadikan aduan.Permintaan tersebut tidak hanya datang dari pasar dalam negri tetapi juga dating dari pasar luar negri.
3.1 Ayam Bangkok Pedaging
Daging ayam merupakan daging favorit di negara kita, karena hampir 100% orang Indonesia suka makan daging ayam. Sehingga berbisnis ternak ayam potong merupakan peluang yang sangat bagus untuk dikembangkan. Beberapa waktu yang lalu, bisnis ayam potong sempat mengalami kemunduran ketika flu burung melanda dunia. Banyak pengusaha ayam potong yang gulung tikar karena daging ayam menjadi “tersangka” utama sehingga menyebabkan orang takut mengkonsumsi daging ayam lagi. Sekarang isu flu burung sudah perlahan menghilang, inilah prospek cerah untuk beternak ayam potong yang mulai menguat kembali.
Sebagian besar masyarakat menyukai daging ayam, konsumennya pun manjangkau dari anak – anak, anak muda, hingga orang tua. Selain itu banyak usaha makanan dan restoran yang menggunakan daging ayam sebagai bahan baku usaha mereka. Jadi selain konsumen perorangan, usaha ini juga memiliki peluang kerjasama dengan usaha yang berbahan baku daging ayam.
Ayam yang dikembangkan sebagai ayam potong adalah ayam Bangkok pedaging. Ayam buras pedaging tersebut merupakan jenis buras unggulan yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Selain itu ayam Bangkok juga meiliki kelebihan karena hanya dengan waktu 5-6 bulan sudah bisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia.
Dalam merawat ayam diperlukan teknik dan pengetahuan yang tepat tentang peternakan. Karena beternak ayam tidaklah mudah, karena takaran makan, minum, luas kandang serta lingkungan kandang juga harus disesuaikan agar ayam dapat tumbuh dengan baik. Karena banyaknya penyakit seperti flu burung, dan penyakit ayam lainnya dapat mengancam usaha kita
Untuk pemasaran usaha kita, dapat dipromosikan mlalui pemasaran dari mulut ke mulut. Disamping itu kita juga bisa bekerjasama dengan usaha ayam potong atau pada pedagang. Hal ini juga dapat dilakukan secara individu.
3.2 Ayam Bangkok Petelur
Memulai usaha dari ayam bangkok dara paling banyak dilakukan oleh para peternak ayam Bangkok petelur, karna dirasa lebih praktis. Dalam waktu sebulan peternak sudah dapat memiliki ayam Bangkok dara siap bertelur. Selain itu, peternak bisa mengkhususkan diri sebagai peternak ayam bngkok petelur tanpa harus di repot kan dengan usaha pembibitan.
Ini hanya bisa dilakukan untuk skala usaha yang tidak terlalu besar, sebab di pasaran ayam bangkok dara siap bertelur jumlahnya tidak terlalu banyak di pasaran. Kalau pun banyak , masih perlu pertimbangan apakah ayam bangkok dara tersebut cocok untuk dijadikan petelur atau tidak.Memang semua ayam bangkok dara dapat di jadikan petelur, tetapi produktivitasnya berlainan.
Cara memilih ayam bangkok petelur yang baik bisa dilakukan dengan dua cara yang sederhana, yaitu dengan memilih ayam yang berasal dari induk yang unggul. Kalau induk sudah memiliki sifat-sifat unggul, kemungkinan anak nya juga unggul. Selain itu ayam bangkok yang di pilih harus memiliki penampilan luar yang baik, misalnya tidak cacat dan tidak penyakitan, hal ini sudah umum dilakukan peternak. Kesulitan terjadi jika bibit di beli di pasar, sebab sulit mengontrol apakah bibit tersebut benar-benar berasal dari induk yang unggul atau tidak.
Kedua dengan melihat cirri-ciri ayam bangkok yang baik untuk petelur. Hasilnya memang lebih baik, tetapi di perlukan ketelitian dan ketekunan untuk melakukannya. Sedangkan bagi peternak yang berpengalaman tidak suli untuk dilakukan , kemampuan seperti ini perlu dilatih untuk peternak pemula. Tabel 6.2 menjelaskan beberapa cirri yang dapat di bedakan pada ayam yang produktivitas bertelur tinggi dengan yang rendah.
Tabel 6.2 Perbedaan cirri-ciri ayam berdasarkan daya bertelurnya.
NO Bagian Tubuh Ayam Daya Bertelur Tinggi Daya Bertelur rendah
1 Jengger Besar, kokoh, merah dan mengkilap Kecil, mengerut, kering dan pucat
2 Muka Cerah, mata bercahaya Puct kekuningan, mata lekung dan tidak bercahaya
3 Lubang dubur Besar, lebar bentuk oval memanjang, permuaan licin dan basah Kecil, bulat mengerut dan kering
4 Tulang pulbis Tipis, tajam dan lemah atau lembut Ujungnya tebal, kasar, keras dan sukar dikuakkan
5 Lebar antara ujung tulang pulbis 3-4 jari tangan orang dewasa Kurang dari 1 jari tangan orang dewasa
6 Rongga perut Lembut Keras, penuh lemak, kecil dan sempit
7 Jarak antarujung tulang pinggul dengan tulang dada 4 jari orang dewasa atau lebih Kurang dari 2 jari tangan orang dewasa
8 Kulit badan Lembut, halus, dan tonggar Keras, tebal dan ketat
Sumber :B. sarwono : 1990

3.3 Ayam Bangkok Ayam Aduan
Kehebatan ayam jago bangkok di arena sambung ayam tak tertandingi oleh jago lokal. Kenyataan ini tak bisa di bantah, karena ayam jantan rata-rata memiliki naluri sebagai petarung. Di arena sambung ayam lebih sering di jumpai ayam bangkok yang mati di bandingkan yang lari karena kalah bertarung. Ayam jago yang tangguh tidak hanya di tentukan oleh factor keturunan saja tetapi juga dipengaruhi oleh faktor pemeliharaan . Pemeliharaan dan penanganan yang sesuai merupakan kunci utama untuk manghasilkan ayam aduan berkualitas tinggi. Selain pemberin pakan yang bergizi latihan fisik dan mental juga perlu dilakukan.
Untuk mendapatkan ayam aduan yang tangguh maka sejak kecil ayam bangkok harus di beri pakan yang bergizi. Dengan pakan yang bergizi diharapkan anak ayam bangkok tersebut dapat tumbuh dengan normal hingga dewasa dan tidak mudah terserang pengakit. Setelah dewasa, ayam jantan akan memiliki tubuh yang kekar, tegap, berotot, bertulang besar dan kuat, bulu tumbuh subur dan mengkilap, serta mempunyai stamina dan daya tahan tubuh yang kuat. Selain di beri pakan yang bergizi, juga di butuhkan perawatan khusus, kesabaran dan ketekunan dari peternak.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah ayam bangkok yang di pelihara jangan sampai terserang penyakit. Misalnya anak ayam yang terserang penyakit tetelo tidak dapat dijadikan ayam aduan ketika dewasa, hal ini dikarenakan sarafnya terganggu sehingga pandangannya tidak stabil.
Untuk menghasilkan ayam aduan yang tangguh, pakan buatan pabrik saja tidak cukup pakan tersebut belum memenuhi syarat. Anak ayam bangkok masih memerlukan pakan tambahan kusus, misalnya hijauan, daging, cidil (anak tikus), daging belut, gabah merah atau putih, jagung dan nasi yang di campur denganbekatul. Selain itu anak ayam bangkok perlu di ubar di pekarangan sejak kecil. Hal ini dimaksudkan supaya ayam mempunyai otot, stamina dan daya tahan tubuh yang kuat ketika dewasa.
Kusus untuk jago aduan, ayam bangkok muda harus dilatih fisik dan mentalnya secara teratur, meskipun mempunyai perawatan tubuh yang tinggi besar, tetapi jika salah melatih fisik dan mental ayam bangkok , maka ayam tersebut tidak akan mempunyai fisik dan mental yang kuat. Oleh sebab itu diharapkan kepada kita untuk waspada dalam melatih mental ayam.
Dalam melatih jago-jago bangkok, pelatih tidak dapat mengubah gaya bertarung ayam tersebut. misalnya ayam yang mempunyai teknik bertarung gaya atas tidak dapat diubah menjadi bertarung gaya bawah, gaya bertarung itu merupakan pembawaan yang di warisi dari induknya.

3.4 Keunggulan Ayam Bangkok
Banyak penggemar dan peternak ayam bangkok menyenangi penampilan ayam tersebut. Ayam ini berpenampilan gagah, tegap, kekar dan pandangannya tajam. Hal ini yang menyebabkan ayam Bangkok lebih unggul dari ayam local.
Para penyambung ayam umumnya menyukai ayam bangkok untuk dijadikan jago aduan. Menurut mereka, jago bangkok memiliki keunggulan dalam bertarung, gaya dan seni bertarung sangat terampil dan trengginas dengan pukulan yang keras sehingga memukau penonton. Semangat laganya juga tinggi, pantang menyerah dan berani mati di dalam petarungan sehingga dapat dikatakan jago bangkok menjadi rajanya ayam aduan di Indonesia.
Ayam bangkok betina juga mempunyai keunggulan penampilannya anggun, lincah dan menawan. Penampilan babon ( ayam betina) bangkok cukup ditakuti oleh babon kampung. Babon bangkok mempunyai pukulan yang keras dalam bertarung. Babon bangkok dalam suatu priode bertelur dapat menghasilkan 10-20 butir telur . ada juga babon bangkok yang tak mengenal mengeram dalam hidupnya.






BAB IV
PENYAKIT AYAM BANGKOK

U

ntuk menghindarkan ayam bangkok dari serangan penyakit maka sebaiknya peternak atau pemilik dapat mengetahui tanda-tanda atau gejala penyaki ayam yang di peliharanya. Disamping itu, harus diketahui pula cara pencegahan dan pengobatan penyakit tersebut. Penyakit dapat menyerang ayam bangkok, baik anakan maupun ayam dewasa.
4.1 Penyebab Penyakit Ayam Bangkok
Pada umumnya penyebab penyakit ayam bangkok sama dengan penyakit ayam pada umumnya. Beberapa penyebab penyakit ayam bangkok diantaranya sebagai berikut:
a) Kekurangan vitamin
Penyakit akibat kekurangan vitamin disebut defisiensi. Penyakit ini sering diderita oleh anak ayam bangkok maupun yang dewasa. Hal ini dapat terjadi dikarenakan pemeliharaan yang kurang baik, terutama dalam pemberian pakan.
b) Virus
Banyak ayam bangkok yang terserang penyakit karena Virus. Dan biasanya berakhir dengan kematian , salah satu contoh penyakit ayam bangkok yang disebabkan virus adalah tetelo. Sampai sekarang penyakit tetelo sangat sulit di sembuhkan karena belum ada obatnya.
c) Bakteri
Penyakit Ayam bangkok yang disebabkan oleh serangan bakteri biasanya lebih mudah disembuhkan dengan menggunakan obat antibiotic.
d) Parasit dan protozoa
Penyakit ayam Bangkok yang disebabkan oleh parasit umumnya tidak begitu membahayakan, tetapi cukup mengganggu partumbuhan dan kesehatan ayam. Sebaliknya, penyakit yang disebabkan oleh protozoa cukup berbahaya sehingga jika tidak ditangani dengan serius dapat menyebabkan kematian.
e) Jamur
Penyakit ayam karena jamur umumnya kurang berbahaya, akan tetapi jika tidak ditangani secara seksama juga akan menimbulkan permasalahan bagi peternak.
4.2 Ciri –Ciri Ayam Terjangkit Penyak
Ciri-ciri gangguan yang sering dialami oleh ayam bangkok tergantung dari penyebab penyakit tersebut. Pada umumnya penyakit tersebut dapat mematikan jika tidak ditangani dengan baik. Di sini peternak sangat dianjurkan untuk dapat mengetahui cirri-ciri ayam yang terkena penyakit. Beberapa ciri-ciri ayamterjangkit penyakit adalah sebagai berikut:
 Ayam tidak nafsu makan
 Ayam banyak minum
 Angka kematian ayam tinggi
 Ayam saling patuk
 Ayam lemah dan lumpuh
 Produksi telur menurun
 Telur kurang kuat



BAB V
PENANGGULANGAN DAN PENANGANAN AYAM SAKIT


P
enanganan ayam yang terjangkit penyakit yang tepat dapat menyelamatkan ayam kita dari kematian. Penanganan itu terbagi dua yaitu,berupa pencegahan dan penanganan setelah terserang penyakit. Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi dan penanganan setelah terserang dapat di lakukan dengan karantina.
5.1 Vaksinasi
Pemberian vaksinasi aktif melalui air minum bersama dengan pemberian anti biotic melalui makanan dan air minum sering mengalami kegagalan. Anti biotic di dalam air minum dapat membunuh kuman vaksin aktif atau minimal dapat membuat daya rangsang kuman menjadi lumpuh. Oleh karena itu, bila menggunakan vaksin aktif lewat air minum hendaknya jangan di campur dengan anti biotic, namum bila pemberian vaksin ini lewat jarum suntik. Maka anti biotic yang di campur dengan air minum tidak pengaruhi daya kekebalan vaksin. Untuk mencegah stress dan efek samping dari vaksin maka sesudah di lakukan vaksinasi ayam Bangkok dapat di beri vita chick sebanyak 2 sendok plastic kecil tiap 0.5 liter air minum.
5.2 karantina
Karantina merupakan tahap pemisahan ayam sakit dengan ayam sehat dengan tujuan penyakit dari ayam yang terjangkit penyakit tidak menular pada ayam sehat. Ayam yang sakit di tempatkan tersendiri dengan perawatan yang kusus dan di beri obat-obatan.



BAB VI
PENUTUP


6.1 Simpulan
Ayam bangkok merupakan ayam yang berasal dari Ayuthaya , sektar 100 KM dari Bangkok ,Thailand . Ayam ini dikenal sebagai ayam aduan yang tangguh dan berani mati di dalam petarungan. Sosok ayam bangkok yang gagah, tegap dan kekar, serta bunyi kokok yang berirama dan pertumbuhanya cendrung cepat, maka ayam bangkok ini berpeluang besar dijadikan ayam pedaging, petelur maupun ayam aduan.
6.2 Saran
Agar dapat mengembangkan potensi ayam Bangkok, kita dapat melakukan hal- hal sebagai berikut sebelum memulai usaha kita supaya di kemudian hari kita menjadi peternak dan pengusaha ayam yang sukses yaitu:
a) Diharapkan kepada pembaca agar bertanya kiat-kiat untuk memilih induk kepada yang sudah berpengalaman di bidang berternak ayam Bangkok di karenakan induk sangat menentukan sifat ayam Bangkok.
b) Di harapkan kepada pembaca untuk serius dalam menangani ayam Bangkok bukan setengah – setengah.





Daftar pustaka
Sudrajad .2003.Ayam Bangkok.Jakarta: Penebar Swadaya.
Djanah,Djamalin.1982.Beternak Ayam dan Itik.Jakarat:CV.Yasaguna.
Sarwono,B.1993.Ayama Aduan.Jakarta.Penebar Swadaya.
Sudiro,Frans,dkk.Aneka Ayam Hias dan Piaraan.Jakarta:kanisius.
Internet
• http://www.anneahira.com/ayambangkok.htm
• http://www.ayambangkok.com/indonesian.htm
• http://jualayamjago.blogspot.com/